Sabtu, 21 April 2012

Komunikasi Politik

Komunikasi Politik
oleh: Eka Lasmawati (FIKOM)

A.  Definisi Komunikasi Politik
Sebagai suatu bidang kajian, studi komunikasi politik mencakup dua disiplin dalam ilmu-ilmu sosial, yaitu ilmu politik dan ilmu komunikasi. Dalam ilmu politik, istilah komunikasi politik mulai banyak disebut-sebut bermula dari tulisan Gabriel Almond yang berjudul The Politics of the Development Areas pada tahun 1960. Almond berpendapat bahwa komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam dalam setiap sistem politik. Menurutnya, komunikasi politik bukanlah fungsi yang berdiri sendiri, akan tetapi merupakan proses penyampaian pesan yang terjadi pada saat keenam fungsi lainnya itu dijalankan.
Dalam hal ini, Easton (dalam System Analysis of Political Life, 1965) memberi batasan sistem politik pada berbagai hal yang berkaitan dengan pembuatan dan pelaksanaan keputusan otoritatif. Berbeda dengan ilmuwan politik yang lebih membahas komunikasi politik berkenaan dengan sistem politiknya, yaitu proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan otoritatif.
Ilmuwan komunikasi membahas komunikasi politik berkenaan dengan unsur-unsur komunikasinya sebagai upaya merumuskan suatu komunikasi politik yang efektif (bandingkan dengan Maswadi Rauf, 1993). Walaupun istilah komunikasi politik mulai populer pada tahun 1960, namun studi-studi tentang komunikasi yang memuat pesan-pesan politik telah ada sejak lama. Misalnya: Studi propaganda pada perang dunia yang dilakukan Harold Lasswell pada tahun 1927, Studi tentang tingkah laku pemilih yang dilakukan Lazarfeld, Berelson dan Gaudet pada tahun 1940 di daerah Ohio, yang kemudian dipublikasikan dengan judul The People’s Choice: How the Voter Makes Up His Mind in a Presidential Campaign, Studi perubahan attitude dalam proses komunikasi yang dilakukan Karl Hovland dkk, 1953, Communication and Persuasion: Psychological Studies of Opinion Change. Semua studi tersebut telah meletakan dasar-dasar yang kokoh bagi pengembangan studi komunikasi politik.
Nimmo mendefinisikan komunikasi politik sebagai kegiatan komunikasi yang berdasarkan konsekuensi-konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik. Definisi ini menggunakan pendekatan konflik.
Roelofs (dalam Sumarno & Suhandi, 1993) mendefinisikan komunikasi politik sebagai komunikasi yang materi pesan-pesan berisi politik yang mencakup masalah kekuasaan dan penempatan pada lembaga-lembaga kekuasaan (lembaga otoritatif). Definisi ini menggunakan pendekatan kekuasaan dan kelembagaan.
Untuk itu dapat disimpulkan definisi komunikasi politik adalah proses komunikasi yang menyangkut interaksi pemerintah dan masyarakat, dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama bagi masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.



B.  Teori Komunikasi Politik
1)        Teori Propaganda
Propaganda adalah suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari penerima/komunikan sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator. 
            Propaganda adalah model konseptual dalam ekonomi politik yang dikemukakan oleh Edward S. Herman dan Noam Chomsky yang menyatakan bagaimana propaganda, termasuk bias sistemik, fungsi di media massa. Model ini berusaha untuk menjelaskan bagaimana populasi dimanipulasi dan bagaimana persetujuan untuk kebijakan ekonomi, sosial dan politik yang "diproduksi" di benak publik karena propaganda ini.
Herman dan Chomsky berpendapat bahwa cara di mana berita ini disusun (melalui iklan, kepemilikan media, pemerintah sourcing dan lainnya) menciptakan konflik kepentingan yang bertindak sebagai propaganda untuk pasukan yang tidak demokratis.
            Teori Propaganda pertama dikemukakan tahun 1988 dalam buku Manufacturing Consent: Ekonomi Politik Media Massa , yang memandang "Propaganda" sebagai media swasta yang tertarik dalam bisnis penjualan produk - pembaca dan penonton - untuk bisnis lain (pengiklan) bukan dari kualitas berita untuk umum.
Propaganda digunakan oleh penguasa untuk mencari dukungan dari rakyatnya. Prestasi penguasa itu dipaparkan secara berlebihan sehingga muncul mitos dan berbagai kepercayaan di kalangan massa akan kehebatan dan keperkasaan para penguasa. Kepercayaan yang hidup dalam masyarakat yang berasal dari kitab-kitab peninggalan lama menunjukkan teknik propaganda telah lama dipakai dalam berbagai peradaban. Apabila citra penguasa sudah semakin kuat, maka penghormatan dan otoritasnya akan semakin menguat.
            Asumsi dari Teori Propaganda yaitu bahwa anggota masyarakat tidak rasional dan berfokus pada simbolis dan aspek emosional komunikasi. Pendekatan untuk berkomunikasi mebangkitkan kemarahan publik dan bukan kepercayaan. Dalam teori propaganda, pejabat publik harus mengadopsi “model demokrasi”, yang mengasumsikan bahwa Audience adalah rasional dan intelektual mampu berarti berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

2)        Teori Khalayak Kepala Batu (The Obstinate Audience Theory)
Teori Khalayak Kepala Batu adalah teori komunikasi politik yang mengkritik teori peluru. Teori komunikasi politik ini juga tidak percaya bahwa khalayak pasif serta dungu, tidak bisa melawan keperkasaan media.
Tokoh-tokoh dari teori ini adalah L.A. Richard (1936), Raymond Bauer (1964), Schramm dan Robert (1977).
Komunikasi adalah transaksi, di mana pesan yang masuk akan disaring, diseleksi, lalu diterima ataupun ditolak melalui filter konseptual. Sementara itu, fokus pengamatannya, terutama ditujukan kepada komunikan (masyarakat) melalui pendekatan psikologi serta pendekatan sosiologi.
Teori ini juga didukung oleh model uses and gratification dari Elihu Katz, Jay G. Blumler & Michael Gurevitch (1974). Kedua tokoh ini mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang rasional, aktif, dinamis, dan selektif terhadap seluruh pengaruh yang berasal dari luar diri manusia. Dalam hal ini, aspek kegunaan dan kepuasan bagi diri pribadi menjadi bahan pertimbangan dalam pilihan khalayak.
Asumsi dasar dari teori komunikasi politik ini adalah masyarakat umum justru begitu berdaya dan tidak pasif sama sekali dalam proses komunikasi politik. Masyarakat pun mempunyai kekuatan menangkal dan menyerap semua terpaan pesan yang ditujukan kepada mereka.

3)        Teori Empati dan Teori Homofili
Teori Empati dan Hemofili dikemukakan oleh Berlo (1960), Daniel Lerner (1978), Everet M. Rogers & F Shoemaker (1971). Teori ini beranggapan bahwa komunikasi politik akan berhasil jika sukses memproyeksikan diri ke dalam sudut pandang orang lain. Hal ini erat sekali hubungannya dengan citra diri si komunikator politik dalam menyesuaikan suasana pikirannya dengan alam pikiran masyarakat. Teori komunikasi politik ini juga mengatakan bahwa komunikasi yang dibangun atas kesamaan (homofili) akan lebih lancar dan efektif daripada didasarkan oleh ketidaksamaan (derajat, usia, ras,agama, ideologi, visi dan misi, simbol politik, doktrin politik, dan lain-lain).
Aplikasi Teori ini yaitu dalam bentuk  komunikasi interpersonal, hubungan kemanusiaan, persuasi atau bujukan, dsb.
Asumsi dasar teori ini adalah bahwa komunikasi politik akan berhasil jika sukses menempatkan diri ke dalam sudut pandang orang lain dan dibangun atas kesamaan (hemofili) akan lebih lancar dan efektif daripada didasarkan pada ketidaksamaan.

Komunikasi Massa

Komunikasi Massa
oleh: Eka Lasmawati (FIKOM)

A.  Definisi Komunikasi Massa
Konteksnya mencakup khalayak dalam jumlah besar. Media massa (mass media) adalah saluran-saluran atau cara pengiriman bagi pesan – pesan massa. Media massa dapat berupa surat kabar, majalah, video, radio, televisi, dll.
Komunikasi massa adalah komunikasi kepada khalayak luas dengan menggunakan saluran-saluran komunikasi tadi. Konteks komunikasi massa berbeda dengan komunikasi lain karena komunikasi yang terjadi biasanya terkendali dan terbatas. Maksudnya komunikasi dipengaruhi oleh biaya, politik, dan kepentingan lainnya.
Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (communicating with media), atau komunikasi kepada banyak orang (massa) dengan menggunakan sarana media. Media massa sendiri ringkasan dari media atau sarana komunikasi massa. Massa sendiri artinya “orang banyak” atau “sekumpulan orang” kelompok, kerumunan, publik.
Joseph R. Dominick mengemukakan bahwa komunikasi massa adalah suatu proses dimana suatu organisasi yang kompleks dengan bantuan satu atau lebih mesin memproduksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang besar, heterogen, dan tersebar.
Jalaluddin Rakhmat menyatakan komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
William R. Rivers menyatakan bahwa  komunikasi massa dapat diartikan dalam dua cara yaitu komunikasi oleh media dan Komunikasi untuk massa.

B.  Teori Komunikasi Massa
1)  Teori Agenda Setting
Teori agenda setting menggambarkan "Kemampuan dari media berita untuk mempengaruhi arti penting topik pada agenda publik." Pada dasarnya, teori menyatakan bahwa isu yang lebih menonjol adalah berita, dalam hal frekuensi dan keunggulan cakupan, penonton lebih banyak menganggap berita penting akan menjadi masalah.
Teori agenda setting secara resmi dikembangkan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw dalam sebuah studi pada pemilihan presiden 1968. Pada tahun 1968 "Studi Chapel Hill," menunjukkan McCombs dan Shaw sebagai korelasi kuat diantara 100 warga dari Chapel Hill, North Carolina pikir adalah masalah pemilu yang paling penting dan apa yang media berita lokal dan nasional dilaporkan adalah isu yang paling penting.
Dengan membandingkan arti-penting isu dalam konten berita dengan persepsi publik terhadap isu pemilu yang paling penting, McCombs dan Shaw mampu menentukan sejauh mana media mempengaruhi masyarakat.
Bernard Cohen, berpendapat media "memberitahu kita (masyarakat) apa yang harus dipikirkan". Oleh karena itu, studi pada 1968 diterbitkan dalam edisi 1972 yang berjudul Opini Publik Triwulan, lebih dari 400 penelitian telah dipublikasikan pada fungsi agenda-setting media massa, dan teori terus menerima dukungan bahkan dalam lingkungan media yang terfragmentasi saat ini.
Dr Max McCombs dan Dr Donald Shaw mengatakan antara lain walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial, ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita. Khalayak bukan saja belajar tentang isu-isu masyarakat dan hal-hal lain melalui media, meraka juga belajar sejauh mana pentingnya suatu isu atau topik dari penegasan yang diberikan oleh media massa.
Asumsi dasar Teori Agenda Setting adalah:
·           Pers dan media tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya, melainkan mereka membentuk dan mengkonstruk realitas tersebut.
·           Media menyediakan beberapa isu dan memberikan penekanan lebih kepada isu tersebut yang selanjutnya memberikan kesempatan kepada publik untuk menentukan isu mana yang lebih penting dibandingkan isu lainnya.
Dampak media massa yaitu kemampuan untuk menimbulkan perubahan kognitif di antara individu-individu, telah dijuluki sebagai fungsi agenda setting dari komunikasi massa. Disinilah terletak efek komunikasi massa yang terpenting, kemampuan media untuk menstruktur dunia untuk kita. Tapi yang jelas Agenda Setting telah membangkitkan kembali minat peneliti pada efek komunikasi massa.

2)  Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan (Uses and Gratifications Theory)
Teori penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan dikemukakan oleh McQuail, Blumler, dan Browmn pada tahun 1972. Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kebutuhan adalah salah satu teori komunikasi dimana titik-berat penelitian dilakukan pada Audience sebagai penentu pemilihan pesan dan media.
Audience dilihat sebagai individu aktif dan memiliki tujuan, mereka bertanggung jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kepuasan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kepuasanan mereka, atau tidak menggunakan media dan memilih cara lain.
Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan menggunakan pendekatan dengan fokus “mengapa sekelompok orang memilih untuk menggunakan media tertentu dibandingkan kandungan isi yang ditawarkan”.
Pendekatan ini secara kontras membandingkan efek dari media dan bukan apa yang media lakukan pada pemirsanya’ (yang menitik beratkan kepada kehomogenan pemirsa dalam komunikasi masa dan melihat media sebagai jarum hipodermik).
Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan dapat dilihat sebagai kecenderungan yang lebih luas oleh peneliti media yang membuka ruang untuk umpan balik dan penerjemahan prilaku yang lebih beragam. Namun beberapa komentar berargumentasi bahwa pemenuhan kepuasan seharusnya dapat dilihat sebagai efek, contohnya film horror secara umum menghasilkan respon yang sama pada pemirsanya, lagipula banyak orang sebenarnya telah menghabiskan waktu di depan TV lebih banyak daripada yang mereka rencanakan. Menonton TV sendiri telah membentuk opini apa yang dibutuhkan pemirsa dan membentuk harapan-harapan.
Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan pada awalnya muncul ditahun 1940 dan mengalami kemunculan kembali dan penguatan di tahun 1970an dan 1980an. Para teoritis pendukung Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan berargumentasi bahwa kebutuhan manusialah yang memengaruhi bagaimana mereka menggunakan dan merespon saluran media.
Zillman sebagaimana dikutip McQuail telah menunjukkan pengaruh mood seseorang saat memilih media yang akan ia gunakan, pada saat seseorang merasa bosan maka ia akan memilih isi yang lebih menarik dan menegangkan dan pada saat seseorang merasa tertekan ia akan memilih isi yang lebih menenangkan dan ringan. Program TV yang sama bisa jadi berbeda saat harus memenuhi kepuasan pada kebutuhan yang berbeda untuk individu yang berbeda. Kebutuhan yang berbeda diasosiasikan dengan kepribadian seseorang, tahap-tahap kedewasaannya, latar belakang, dan peranan sosialnya. Sebagai contoh menurut Judith van Evra anak-anak secara khusus lebih menyukai untuk menonton TV untuk mencari informasi dan disaat yang sama lebih mudah dipengaruhi.
Khalayak diasumsikan sebagai bagian dari khalayak yang aktif dalam memanfaatkan muatan media, bukannya secara pasif saat mengkonsumsi media massa (Rubin dalam Littlejohn, 1996 : 345).
Asumsi dasar Uses and Gratification yaitu Audience adalah aktif dan diarahkan oleh tujuan. Audience dianggap memiliki tanggung jawab sendiri dalam mengadakan pemilihan terhadap media massa untuk mengetahui kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya. Media massa dianggap hanya sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan individu dan individu boleh memenuhi kebutuhan mereka melalui media massa atau dengan suatu cara lain.

 3)  Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
Teori ketergantungan berasal dengan dua makalah yang diterbitkan pada tahun 1949 - satu Hans Singer, satu Raul Prebisch - di mana penulis mengamati bahwa kondisi perdagangan bagi negara-negara terbelakang relatif terhadap negara-negara maju telah memburuk dari waktu ke waktu: negara-negara terbelakang mampu membeli semakin sedikit barang manufaktur dari negara maju dalam pertukaran untuk jumlah tertentu dari ekspor bahan baku mereka. Gagasan ini dikenal sebagai tesis Singer-Prebisch.
Prebisch, seorang ekonom Argentina di Komisi PBB untuk Amerika Latin (UNCLA), kemudian menyimpulkan bahwa negara-negara terbelakang harus menggunakan beberapa derajat proteksionisme dalam perdagangan jika mereka memasuki jalur pembangunan mandiri. Dia berargumen bahwa substitusi Impor-industrialisasi (ISI), bukan orientasi perdagangan dan ekspor, adalah strategi terbaik untuk negara-negara terbelakang.
Teori ini dikembangkan dari perspektif Marxis oleh Paul A. Baran tahun 1957 dengan penerbitan nya Ekonomi Politik Pertumbuhan. Saham Ketergantungan teori banyak titik dengan sebelumnya, Marxis, teori imperialisme oleh Rosa Luxemburg dan VI Lenin , dan telah menarik minat lanjutan dari Marxis. Matias Vernengo, University of Utah ekonom, mengidentifikasi dua aliran utama dalam teori ketergantungan: para strukturalis Amerika Latin, ditandai oleh karya Prebisch, Celso Furtado dan Anibal Pinto di Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin (ECLAC, atau, dalam bahasa Spanyol , CEPAL), dan Marxis Amerika, dikembangkan oleh Paul A. Baran , Paul Sweezy , dan Andre Gunder Frank .
 Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.
Asumsi dasar teori ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digaris bawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media. Lalu apa yang sebenarnya melandasi ketergantungan khalayak terhadap media massa? Ada dua jawaban mengenai hal ini, yaitu:
Pertama, khalayak akan menjadi lebih tergantung terhadap media yang telah memenuhi berbagai kebutuhan khalayak bersangkutan dibanding pada media yang menyediakan hanya beberapa kebutuhan saja.
Kedua, sumber ketergantungannya adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial. Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi.

Komunikasi Organisasi

Komunikasi Organisasi
oleh: Eka Lasmawati (FIKOM)

A. Definisi Komunikasi Organisasi
Everet M.Rogers dalam bukunya Communication in Organization, mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas.
Robert Bonnington dalam buku Modern Business: A Systems Approach, mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang. Dapat dikatakan bahwa organisasi merupakan suatu paduan dari bagian-bagian yang satu sama lain saling bergantung. Dalam komunikasi organisasi akan erat kaitannya dengan suatu kekuasaan, arus pesan, dan perilaku karena melibatkan jumlah orang yang tidak sedikit dalam setiap organisasinya.
Menurut Gold Haber, Komunikasi organisasi adalah arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergantungan satu sama lain. Arus pesan yang digunakan bersifat: vertikal, horizontal, dan diagonal.
Komunikasi Organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.
Secara fungsional, komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Komunikasi organisasi dapat terjadi kapanpun, setidaknya satu orang yang menduduki suatu jabatan dalam suatu organisasi akan menafsirkan suatu pertunjukkan.
Sedangkan secara tradisional, komunikasi organisasi cenderung dianggap menekankan kegiatan penanganan pesan yang terkandung dalam suatu “batas organisasional (organizational boundary)”. Dalam hal ini komunikasi organisasi dipandang dari suatu perspektif interpretif (subjektif) adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi.
Hal yang membedakan komunikasi organisasi dengan lainnya adalah adanya hierarki. Hierarki adalah prinsip-prinsip pengaturan dimana orang diberikan urutan diatas atau dibawah orang lain.


B. Teori Komunikasi Organisasi
1)  Teori Informasi Organisasi
            Teori Komunikasi Organisasi dikemukakan oleh Karl Weick (1995). Karl Weick mengembangkan sebuah pendekatan untuk menggambarkan proses dimana organisasi mengumpulkan, mengelola dan menggunakan informasi yang mereka terima.
            Fokus utama penelitian Weick adalah pada pertukaran informasi yang terjadi dalam organisasi dan bagaimana anggota mengambil langkah untuk memahami hal ini. Weick percaya bahwa “orgaanisasi berbicara pada dirinya sendiri”. Maksud dari pernyataan tersebut adalah anggota-anggota organisasi adalah penting dalam penciptaan dan pemeliharaan makna pesan.
            Weick melihat organisasi sebagai sebuah sistem yang mengambil sebuah informasi yang membingungkan atau ambigu dari lingkungannya dan membuat informasi tersebut menjadi masuk akal. Oleh karenanya, menurut Teori Informasi Organisasi, organisasi akan berevolusi selama mereka masih berusaha untuk memahami diri mereka dan lingkungannya.
            Weick pertama kali memperkenalkan pendekatan teoritis yang menjelaskan bagaimana organisasi memahami dan menggunakan informasi dalam bukunya The Social Psyhology Organizing (1969). Ia kemudian memperbarui teorinya untuk mengklarifikasikan kebingungan yang mungkin muncul (1995).                               Teorinya berfokus pada proses yang dilalui organisasi dalam usaha untuk memahami semua informasi yang membombardir mereka tiap harinya. Weick mengatakan, “organisasi dan lingkungan mereka berubah begitu cepatnya sehingga sangat tidak realistis untuk menunjukkan seperti apa mereka saat ini, karena mereka tidak akan tetap seperti itu nantinya.”(1969).
            Fokus dari teori organisasi adalah pengkomunikasian informasi yang penting bagi suksesnya sebuah oraginsasi. Sangat jarang bahwa seseorang atau satu departemen dalam sebuah organisasi mempunyai semua informasi penting untuk menyelesaikan suatu proyek. Tugas pemrosesan informasi tidak dilaksankan hanya dengan melakukan perolehan informasi, bagian tersulit adalah dalam mengartikan dan mendistribusikan informasi yang didapatkan.
            Asumsi dasar teori informasi organisasi :
·           Organisasi manusia ada dalam sebuah lingkungan informasi.
Asumsi ini menyatakan bahwa organisasi bergantung pada informasi agar dapat berfungsi dengan efektif dan mencapai tujuan mereka. Weick (1979) memandang konsep lingkungan informasi sebagi sesuatu y6ang berbeda dari lingkungan fisik dimana organisasi berada. Ia menyatakan bahwa lingkungan informasi ini diciptakan oleh anggota organisasi.
·           Informasi yang diterima sebuah organisasi berbeda dalam hal ketidak jelasannya.
Asumsi Yang diajukan oleh Weick berfokus pada ambiguitas yang ada dalam informasi. Pesan-pesan berbeda dalam hal sejauh mana mereka dapat dipahami. Sebuah organisasi harus menentukan mana anggota yang lebih mengetahui atau berpengalaman dalam berurusan dengan informasi penting yang didapatkan. Sebuah rencana untuk memahami informasi harus disusun. Pesan-pesan, menurut teori Weick, sering kali tidak jelas. Ketidakjelasan merujuk pada pesan yang rumit, tidak pasti, dan tidak dapat di prediksi.
·           Organisasi manusia terlibat di dalam pemprosesan informasi untuk mengurangi ketidakjelasan informasi.
Asumsi ini menyatakan bahwa organisasi mulai dalam aktifitas kerjasama untuk mebuat informasi yang diterima dapat lebih dipahami. Weick melihat proses mengurangi ketidakjelasan sebagi sebuah aktifitas bersama diantara anggota organisasi. Ini bukan hanya merupakan tanggung jawab dari seseorang saja untuk mengurangi ketidakjelasan. Sebaliknya, ini adalah sebuah proses yang mungkin melibatkan beberapa anggota organisasi.

2) Teori Budaya Organisasi
            Teori Budaya Organisasi dikemukakan oleh Clifford Geertz, Michael Pacanowsky dan Nick O’Donnell-Trujillo. Untuk memahami kehidupan organisasi melampaui budaya termasuk nilai-nilai, kisah, tujuan, praktik, dan filosofi perusahaan. Michael Pacanowsky, dan Nick O’Donnell-Trujillo (1982,1990) mengonseptualisasikan teori budaya organisasi. Pacanowsky dan Nick O’Donnell-Trujillo merassa bahwa organisasi dapat paling baik dipahami dengan menggunakan lensa budaya, sebuah ide yang mulanya dikenukakan oleh seorang antropolog bernama Clifford Geertz.  
            Pacanowsky, dan Nick O’Donnell-Trujillo (1982) berargumen bahwa teori budaya organisasi mengundang para peneliti “ untuk mengamati, mencatat dan memahami perilaku komunikatif dari anggota-anggota organisasi”. Mereka menganut “totalitas atau pengalaman nyata dalam organisasi” (Pacanowsky,.1989). Para teoritikus dalam pemahaman mereka akan organisasi dengan menyatakan bahwa “budaya bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh organisasi; budaya adalah sesuatu yang merupakan orgainsasi itu sendiri (Pacanowsky dan O’Donnell-Trujillo, 1982).
            Dalam hal ini budaya tidak mengacu pada keanekaragaman ras, etnis, dan latar belakang individu. Menurut Pacanowsky dan O’Donnell-Trujillo budaya adalah suatu cara hidup di dalam sebuah organisasi. Budaya organisasi mencakup iklim atau atmosfer emosional dan psikologis. Hal ini mencakup semangat kerja karyawan, sikap, dan tingkat produktifitas (schrodt, 2002). Budaya organisasi juga mencakup semua simbol (tindakan, rutinitas, percakapan, dst) dan makna-makna yang dilekatkan orang pada simbol-simbol ini. Makna dan pemahaman budaya dicapai melalui interaksi yang terjadi antar karyawan dan pihak menejemen.
            Pacanowsky dan O’Donnell-Trujillo percaya bahwa budaya organisasi “mengindikasikan apa yang mnyusun dunianya ingin diselidiki”. Dengan kata lain, budaya organisasi adalah esensi dari kehidupan organisasi. Mereka mengadopsi pendekatan interpretasi sombolik yang dikemukakan oleh Clifford Geertz (1973) dalam model teoritis mereka. Clifford Geertz menyatakan bahwa orang-orang adalah “yang tergantung di dalam jaringan kepentingan”. Clifford Geertz menggambarkan jaringan kepentingan seperti jaring laba-laba. Clifford Geertz menggunakan gambaran mengenai laba- laba bukan tanpa tujuan. Ia yakin budaya seperti sebuah jaring yang dipintal oleh laba-laba. Maksudnya, jaring ini memiliki desain yang rumit, dan tiap jaring berbeda dengan yang lainnya.
            Asumsi dasar Teori Budaya Organisasi:
·           Anggota-anggota organisasi menciptakan dan mempertahankan perasaan yang dimiliki bersama mengenai realitas organisasi, yang berakibat pada pemahaman yang lebih baik mengenai nila-nilai sebuah organisasi.
·           Penggunaan dan interpretasi simbol sangat penting dalam budaya organisasi.
·           Budaya bervariasi dalam organisasi-organisasi yang berbeda, dan interpretasi tindakan dalam budaya ini juga beragam.

3)  Toeri Penstrukturan Adaptif
            Anthony Giddens, seorang sosiolog pertama kali mempresentasikan teori penstrukturan adaptif pada tahun 1979. Dalam penelitiannya, Giddens mendeskripsikan bagaimana institusi sosial dan organisasi, misalnya diproduksi, direproduksi, dan ditransformasi melalui penggunaan aturan-aturan sosial. Giddens memandang struktur sosial sebagai pedang bermata dua,  struktur dan aturan yang diciptakan membatasi perilaku seseorang. Akan tetapi, aturan yang sama juga membuat seseorang mampu memahami dan berinteraksi denagn orang lain.
            Aturan-aturan ini dapat dinyatakan secara eksplisit (seperti prosedur penyampaian keluhan yang dijabarkan di dalam buku panduan karyawan) atau dipelajari secara implisit ( seperti menghormati satu sama lain dengan menberikan kesempatan pada tiap anggota kelompok untuk menyuarakan pendapatnya).
            Dalam teori penstrukturan adaptif, Giddens (1984) menyatakan bahwa kunci dari memahami komunikasi yang terjadi di dalam organisasi adalah dengan mempelajari struktur yang berfungsi sebagai pondasi mereka. Ia membuat perbedaan antara konsep sistem dan struktur.
            Istilah sistem merujuk pada organisasi itu sendiri dan perilaku yang dilaksanakan oleh organisasi ini untuk mencapai tujuannya. Istilah struktur merujuk pada aturan-aturan dan sumber daya yang digunakan para anggotanya untuk menciptakan dan mempertahankam sistem, dan juga untuk mengarahkan perilaku mereka.
            Marshall Scott Poole (1990) dan koleganya (Poole, seibold, dan McPhee,1985,1996) memperbaiki dan memperluas teori Giddens dengan membentuk suatu program penelitian yang menerapkan teori pada proses-proses yang terlibat di dalam pengambilan keputusan kelompok. Poole memperluas karya Giddens dan mengonseptualisasikan teori penstrukturan adaptif. “mengadaptasi” penelitian Giddens merupakan usaha yang menantang bagi para peneliti tersebut.
            Penstrukturan dalam kelompok atau organisasi dideskripsikan sebagai “proses dimana sistem diproduksi dan direproduksi melalui pemakaian aturan dan sumber daya oleh anggota-anggota” (Poole, seibold, dan McPhee,1996).
            Penstrukturan memberikan pondasi yang berguna untuk mempelajari dampak yang dimiliki oleh aturan dan sumber daya terhadap keputusan kelompok dan komunikasi  organisasi. Penstrukturan bersifat komunikatif: “berbicara adalah tindakan. Jika struktur benar-benar diproduksi melalui interaksi, maka komunikasi lebih dari sekedar pengantar tindakan; komunikasi adalah tindakan” (Modaff dan DeWine, 2002).
             Asumsi dasar Teori Penstrukturan Adaptif adalah sebagai berikut :
·           Kelompok dan organisasi diproduksi dan direproduksi melalui penggunaan aturan dan sumber daya.
·           Aturan komunikasi berfungsi baik sebagai medium untuk maupun hasil akhir dari interaksi.
·           Struktur kekuasaan ada di dalam organisasi dan menuntun proses pengambilan keputusan dengan menyediakan informasi mengenai bagaimana untuk mencapai tujuan kita dengan Cara ayang terbaik.

LOGIKA DAN ALGORITMA KOMPUTER (SIMULASI DAN KOMUNIKASI DIGITAL)

PERTEMUAN KEDUA SIMULASI DAN KOMUNIKASI DIGITAL  SMKN 1 CARIU Tahun Ajaran 2020/2021 "LOGIKA DAN ALGORITMA KOMPUTER...