Minggu, 03 November 2013

SINOPSIS DAN TREATMEN

1.  Pengertian Sinopsis
Pengertian sinopsis menurut Dr. Gorys Keraf adalah ringkasan atau summary atau précis yang paling efektif dalam menyajikan suatu karangan yang panjang menjadi bentuk pendek.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sinopsis merupakan ikhtisar karangan ilmiah yang biasanya dimunculkan bersamaan dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis tersebut. Sinopsis secara garis besar adalah abstraksi, ringkasan atau ikhtisar karangan.
Sinopsis adalah Alur cerita yaitu penjelasan bagaimana alur cerita suatu drama film, suatu film yang dijelaskan dalam bentuk tulisan yang jelas sehingga pemain maupun penonton memahami jalannya cerita serta produsen memahami isi dari cerita tersebut.
Dapat juga dijelakan bahwa sinopsis adalah ringkasan cerita dari alur cerita yang panjang yang dapat dijelaskan dengan jelas dari alur cerita tersebut. Adanya sinopsis adalah untuk meningkatkan kemampuan seorang penulis agar lebih baik dan lebih terarah dari alur ceritanya.
Suatu sinopsis yang berkualitas adalah suatu rangkaian ringkasan yang singkat namun mampu menjelaskan cerita secara keseluruhan, sehingga meski hanya singkat, orang akan lebih mudah memahami alur cerita yang sesungguhnya.
Jangan membuat sinopsis yang memutar balikkan cerita karena ini tentu saja akan membuat si pembaca akan merasa bingung dengan jalannya cerita. Suatu cerita dalam film atau drama bila dikemas secara terarah maka drama tersebut akan mudah dinikmati oleh penontonnya. Buat start dan proses yang baik hingga ending cerita yang jelas sehingga penonton tidak dibuat terkatung-katung.
Sinopsis juga merupakan cerita dasar, penilaian terhadap cerita dasar sesuai dengan tujuan produksi, dikaitkan dengan prediksi potensi dana produksi dan potensi penonton sebagai khalayak sasaran. Prediksi dana produksi selain menyangkut jaminan arus dana, yang tidak kalah pentingnya adalah adanya fisibilitas dalam pengembalian modal. Mungkin ada produser yang tidak menuntut pengembalian modal, misalnya pemerintah atau pribadi dan badan yang memiliki program sosiokultural.
Jika didapat penyandang dana semacam ini tentunya akan menjadi berkah bagi produser. Namun demikian tetap perlu dilakukan prediksi potensi penonton. Ini bertolak dari kesesuaian cerita dengan kecenderungan sosiografis dan psikografis khalayak yang akan dituju (target audience). Penilaian ini dilakukan oleh produser yang mengenali khalayak sasarannya atau memiliki misi ideal yang ingin diwujudkannya. Dengan kata lain, suatu cerita dapat dilihat dari sisi kesesuaian dengan motif penonton yang akan dijadikan khalayak sasaran, atau bertolak dengan kesesuaian idealisme kebudayaan dari produser. Sisi manapun yang menjadi dasar bertolak, pilihan cerita tetap menggunakan kriteria enak ditonton.
Sering orang menganggap sinopsis merupakan ringkasan cerita. Ini memang tidak salah, tetapi belum memberikan gambaran yang relevan tentang fungsi suatu sinopsis cerita. Sinopsis suatu cerita bukan sekadar ringkasan cerita. Lantas apa? Sinopsis adalah usulan untuk pengembangan tema. Jadi ada tema tertentu yang dianggap menarik, dan si penulis merasa perlu memperkembangkan sebagai cerita. Untuk itu dia perlu memberi gambaran mengapa tema itu dianggap menarik untuk dikembangkan sebagai cerita. Sebagaimana diketahui, tema adalah pokok pikiran yang akan menjadi sari cerita, dan mengandung pesan moral (sesuai dengan misi penulis).
Dalam menulis sinopsis, penulis perlu memberikan gambaran unsur-unsur dalam ceritanya kelak yang dianggap mengandung nilai dramatik. Karenanya, dalam menulis sinopsis, perlu dirumuskan lebih dulu tema yang mendasari cerita. Selanjutnya tuliskan unsur-unsur yang dianggap dapat melahirkan kejadian-kejadian yang bakal membangun suasana dramatik.

Unsur-unsur yang perlu digambarkan itu adalah:
·         Karakter tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita.
Tokoh-tokoh seperti apakah yang akan bertemu dalam cerita yang akan ditulis? Jika sosok tokoh ini sudah jelas, dapat dituliskan pula:
-          Bagaimanakah motivasi tokoh-tokoh itu?
-          Hambatan-hambatan apakah yang dialami oleh tokoh-tokoh itu dalam memenuhi motivasinya? Apakah sebabnya motivasi itu terhambat?
·         Kejadian-kejadian yang dianggap dramatik dalam interaksi para tokoh dalam cerita. Tentu saja tidak perlu menuliskan kejadian-kejadian secara detail, sebab itu disediakan untuk treatment. Sedang di dalam sinopsis cukup menuliskan kejadian-kejadian pokok saja, untuk meyakinkan bahwa tema itu memang menarik andaikata sudah menjadi cerita kelak.
·         Tempat dan waktu (masa/zaman) cerita berlangsung juga perlu dituliskan dalam sinopsis, agar diperoleh gambaran bagaimana hubungan manusia-manusia yang diceritakan itu dengan tempat dan masa kejadian berlangsung.
Untuk enak ditonton, setiap cerita dituntut memiliki kekuatan dramatik. Suasana dramatik tidak mungkin tertangkap melalui sinopsis atau cerpen. Sinopsis hanya merupakan deskripsi tema yang ingin dijadikan cerita. Begitu pula tangga dramatik suatu cerpen misalnya, biasanya hanya satu kali, menjelang akhir. Tangga dramatik yang bertingkat hanya dapat ditangkap melalui novel. Namun ada perbedaan novel dengan media audio-visual. Perbedaannya pada medium yang digunakan, film menggunakan medium gambar dan suara. Sedangkan cerpen dan novel menggunakan medium teks.
Karenanya setiap produser hanya dapat membahas prediksi bagi bakal produksinya jika sudah ada kejelasan cerita melalui treatment dan skenario. Melalui treatment dapat diketahui suasana dan tangga dramatik cerita, sementara dari skenario dapat diprediksi biaya dan waktu yang diperlukan untuk berproduksi.
Kalau film yang akan digarap berdasarkan dari gagasan yang dimulai dengan penentuan tema, maka Sinopsis merupakan pengembangan dari Dasar Cerita. Sinopsis kurang lebih adalah ringkasan cerita yang berisi:
1.      Garis besar jalan cerita.
Meski cerita diuraikan secara ringkas, namun harus memperlihatkan alur cerita yang jelas.
2.      Tokoh protagonis
Tokoh protagonis harus dijelaskan siapakah dia? Apa keinginannya? Apa kejelekannya? Kelebihannya? Bagaimana membuat simpati padanya?
3.      Tokoh antagonis.
Tokoh Antagonis harus dijelaskan siapa dia? Kenapa dia harus menghambat tokoh protagonis? Apa alasannya? Apa kemampuannya untuk membuat penonton antipati?
4.      Tokoh penting yang menunjang plot utama/jalan cerita utama.
Tokoh-tokoh yang penting untuk menunjang plot utama atau alur utama. Teman Protagonis atau Antagonis. Penggambaran tokoh ini sudah harus jelas ketika tokoh ini membuat bagian penting dalam bergulirnya sebuah cerita.
5.      Problem Utama
Harus terlihat problem utama yang melahirkan alur utama cerita. Problem utama itulah yang membuat sasaran perjuangan protagonis sampai akhir.
6.      Motif utama.
Penilaian atas motif utama sejalan dengan problem utama, yakni apakah motif utama mendorong protagonis melahirkan cerita memang sesuai dengan problem utama yang melahirkannya.
7.      Klimaks dan Penyelesaian
Pencapaian klimaks merupakan hal yang amat penting untuk dinilai karena klimaks adalah puncak dari tangga dramatik. Jika diandaikan klimaks harus berada tepi tebing yang curam dan sangat berbahaya. Alur cerita harus membawa protagonis ke arah tebing yang berbahaya!
8.      Kesimpulan
Apa yang ingin disampaikan dalam cerita harus bisa disimpulkan dalam sinopsis. Jika dalam sinopsis belum bisa disimpulkan maka perlu ada tambahan informasi yang jelas.

Syarat-syarat Penyusunan Sinopsis
Dalam mempersiapkan sinopsis, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut. 
Pertama, penulis sinopsis harus sudah selesai membaca atau menyimak karya yang akan dibuat sinopsisnya. Pastikan sudah memahami betul inti cerita dan alurmya. 
Kedua, dalam menulis sinopsis jangan lupakan unsur-unsur intrinsik yang terkandung di dalam karya.
Masih ingat dengan kelima unsur instrinsik cerita?
1.      Tema.
Inti yang menjadi dasar cerita. Dalam sinopsis, unsur ini bisa dihadirkan di awal atau di akhir dengan mengutip tulisan dalam karya tersebut.
2.      Alur.
Nama lainnya adalah plot, merupakan urutan jalannya cerita yang terlihat menyatu dan terdapat hubungan sebab-akibat di dalamnya. Alur memiliki tingkatan, yaitu tahap perkenalan masalah, penanjakkan laku, klimaks, anti klimaks, dan penyelesaian masalah. Dalam sebuah sinopsis, alur menjadi bagian paling penting yang tidak boleh dihilangkan karena mampu memperjelas jalannya cerita secara keseluruhan. 
3.      Penokohan.
Pencitraan tokoh atau karakter dalam cerita. Sinopsis memunculkan sang tokoh sentral dan beberapa karakter pendukung lebih fokus agar pembaca tertarik untuk melanjutkan menyelami karya tersebut.
4.      Latar.
Dalam bahasa film dikenal dengan setting, merupakan penanda waktu, suasana, tempat dan korelasi semuanya dengan cerita. Sinopsis sedikit banyak turut menyelipkan unsur ini.
5.      Point of view atau sudut pandang tokoh adalah cara penulis menyebutkan tokoh. Terdapat beberapa sudut pandang yang biasa dipakai, yaitu orang pertama tunggal 'aku', orang ketiga tunggal 'dia' sebagai Yang Maha Tahu dan campuran 'ku' dan 'dia'. Dalam sinopsis, yang dipakai biasanya adalah sudut pandang 'dia'.
Ketiga, sinopsis harus dibuat sejujur-jujurnya, sesuai isi ceritanya atau berdasarkan fakta karyanya. Kalau pun ingin menambah pendapat sendiri, usahakan tidak menggunakan bahasa yang menyinggung, mengkritik dengan pedas, dan keluar dari cerita.
Keempat, perlu diingat, sinopsis tentu sangat berbeda dengan resensi. Sinopsis dibuat sesuai karya aslinya dengan cara membuat précis yaitu kesimpulan atau ringkasan. Sedangkan resensi dibuat mirip sinopsis dengan menambahkan pendapat penulis resensi mengenai kekurangan dan kelebihan isi buku atau film. Prinsip resensi adalah untuk mengulas lebih dalam suatu karya.
Kelima, sinopsis langsung dibuat tanpa perlu diawali dengan: "Menurut penulis..." atau "Berdasarkan pengamatan penulis...".
Keenam, berlatihlah menulis sinopsis dengan mulai membaca buku lalu membuat ringkasannya. Pelajari pula contoh-contoh sinopsis yang sering ada di cover belakang buku. Atau menonton film kemudian menceritakannya kembali dan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan singkat.

Metode Membaca
Dalam proses pembuatan sinopsis diperlukan tahap membaca dengan saksama agar tulisan yang kita buat sesuai dengan fakta cerita pendek atau novel. Membaca memiliki tujuan. Tujuan utama di sini adalah untuk mendapatkan intisari cerita berbentuk sinopsis.
Tujuan membaca secara garis besar adalah untuk memperoleh informasi dari suatu bacaan, memperoleh kesenangan atau hiburan, mengetahui apa yang sedang terjadi atau sedang tren melalui membaca koran dan buku fiksi atau non fiksi, membandingkan satu karya dengan karya lain, memperoleh kenikmatan emosi, mendapatkan pemahaman, dan mengisi waktu luang.
Teknik membaca cepat memiliki beberapa pendekatan, yaitu sebagai berikut.
a.       Survey, melihat sekilas isi buku seperti cover buku, judul buku, lalu membuka cepat halaman demi halaman untuk melihat sub bab dan bagian-bagian penting isi buku. 
b.      Question, sambil melakukan survey, Anda bisa sekaligus melakukan analisa terhadap isi buku seperti melontarkan pertanyaan,"mengapa begini" dan "apa saja yang mendasari hal tersebut".
c.       Read, mulailah membaca secara keseluruhan dengan jeda di setiap bab yang selesai dibaca. Jeda ini dilakukan untuk memperoleh intisari bacaan.
d.      Refleksi, tahap ini dilakukan dengan menceritakan kembali ide-ide utama dalam satu bab tersebut, tentu saja dengan gaya bahaya sendiri. Tahap refleksi bertujuan untuk memahami isi bacaan bukan sekadar tahu dan ingat sesaat.
e.       Review, ini adalah tahap dimana Anda me-recall apa yang sudah Anda baca dengan melakukan survei kembali, yaitu melihat sekilas bagian-bagian terpenting dalam satu bab dan bab-bab berikutnya. Review dilakukan untuk memahami isi buku secara keseluruhan, bukan hanya per bab.

Langkah-langkah Penyusunan Sinopsis
Sinopsis yang hanya terdiri dari seperlima bagian dari keseluruhan isi buku atau film dapat disusun berdasarkan tahapan berikut.
·         Bacalah buku sambil menggarisbawahi ide pokok. Setelah didapat ide pokoknya, lalu pindahkan ke dalam catatan dan mulailah kembangkan sendiri ide pokok dengan gaya bahasa sendiri.
·         Bacalah buku per bab secara berulang-ulang.
·         Buatlah sinopsis sederhana dengan menggunakan kalimat tunggal atau sederhana. Bila memungkinkan, gunakan kalimat majemuk yang lebih kompleks agar bisa didapat intisari dalam satu pemahaman.
·         Bila ada kalimat yang terlalu kompleks, sederhanakanlah agar sinopsis bisa menjadikannya lebih mudah untuk dipahami. Bila kalimat tersebut dirasa tidak bisa disederhanakan lagi, maka ambillah agar sesuai dengan keaslian isi buku.
·         Tokoh sentral dalam karya tersebut disebut sebanyak beberapa kali dengan mempertimbangkan fungsinya bersama dengan tokoh pendukung hingga menjadi satu kesatuan ide cerita yang menarik. Ingat sinopsis adalah karya tersebut dalam bentuk ringkasan.
·         Sinopsis film dapat dibuat dengan mengandalkan audio visual kita. Perhatikan alur cerita, tokoh-tokohnya dan detil-detil film. Bisa jadi hal-hal simpel dalam adegan suatu film menjadi hal terpenting atau kunci cerita. Foreshadowing adalah istilah yang digunakan untuk menyebut detail dalam film dari hal kecil tersebut.

2.   Tujuan Sinopsis
Sinopsis memiliki arti penting dalam pembuatan skenario, yaitu sebagai pijakan. Kita akan kesulitan membuat skenario apabila kita tidak tahu sinopsis ceritanya. Akan sama sulitnya kita akan membuat sinopsis apabila tidak mempunyai ide cerita.
Apabila  kita membuat film bukan film lepas (FTV/layar lebar), melainkan sinetron, maka selain menyiapkan sinopsis global, kita juga harus menyiapkan sinopsis per episode yang tentu saja lebih detail dibanding dengan sinopsis global.
Tujuan utama sinopsis adalah memudahkan pemesan (produsen) menangkap konsep, mempertimbangkan kesesuaian gagasan dengan tujuan yang ingin dicapai dan menentukan persetujuannya. Setelah sinopsis ditulis maka sudah harus nampak adanya: alur, isi cerita, perwatakan pemain, tempat, waktu, serta keterangan lain yang memperjelas sinopsis.
Tujuan lain dibuatnya sinopsis adalah untuk memberikan informasi terpenting dari sebuah karya kepada pembaca atau penikmatnya dalam format yang lebih singkat sehingga mereka dapat dengan mudah mengetahui intisari cerita. Sinopsis hanya dibuat sebanyak satu sampai tiga halaman.

3.  Pengertian Treatmen
Treatment adalah pengembangan jalan cerita dari sebuah sinopsis yang di dalamnya berisi plot secara detail namun cukup padat. Treatment bisa diartikan sebagai kerangka skenario yang tugasnya adalah membuat sketsa dari penataan konstruksi dramatik. Dalam bentuk sketsa ini kita akan mudah memindah-mindahkan letak urutan peristiwa agar benar-benar tepat.
Treatment merupakan deskripsi setiap adegan untuk menampilkan alur cerita atau uraian ringkas secara deskriptif, bukan tematis yang dikembangkan dari sinopsis, melainkan dengan bahasa visual tentang suatu episode cerita, atau ringkasan dari rangkaian suatu peristiwa. Artinya dalam membuat treatment bahasa yang digunakan adalah bahasa visual. Sehingga apa yang dibaca dapat memberikan gambaran mengenai apa yang akan dilihat. Dengan membaca treatment bentuk program yang akan dibuat sudah dapat dibayangkan.
Treatmen perlu dibuat, walaupun cerita berasal dari novel yang sudah terbentuk plot dan alur ceritanya. Dengan adanya treatment, analisis dapat dilakukan lebih tajam dan efisien. Pertimbangannya dilakukan melalui urutan adegan yang terdapat dalam naskah treatment, dapat berfungsi untuk:
a.       Menilai hubungan logis rangkaian adegan dalam alur cerita
b.      Menilai potensi tangga dramatik dari urutan adegan dalam alur cerita.
c.       Bahan utama menyusun skenario (Adegan adalah satuan peristiwa yang memuat motif dan tindakan manusia baik sendiri maupun dalam berinteraksi dengan manusia lain).
Dengan kata lain, treatment akan mendeskripsikan kejadian dalam susunan logis sesuai dengan urutan cerita. Melalui treatment dapat diikuti kejadian kejadian yang berlangsung, sehingga dapat diketahui plot cerita. Dari sinopsis yang sudah memberikan gambaran mengenai unsur-unsur yang terkandung dalam cerita kelak, penulis mengembangkan kejadian-kejadian untuk mewujudkan cerita yang sudah memiliki struktur.
Dalam suatu treatment tidak perlu dituliskan percakapan tokoh. Kecuali jika penulis menganggap ada percakapan kunci yang sedemikian pentingnya, kalau tidak dicantumkan orang tidak bisa menangkap plot cerita misalnya, barulah perlu menuliskan dialog atau monolog tokoh-tokoh. Tetapi kalau masih bisa dihindari, lebih baik tidak menuliskan dialog, agar bisa berkonsentrasi memikirkan kejadian-kejadian melalui tindakan tokoh-tokoh cerita.
Dengan menguraikan secara berurutan tindakan-tindakan penting, untuk memperoleh gambaran mengenai kejadian yang dramatik. Jika penulis dapat mengimajinasikan tindakan-tindakan yang dapat ditangkap secara visual, maka pengwujudan dalam media televisi dan film kelak akan lebih gampang.
Sehingga perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a.       Urutan dalam video sudah makin jelas
b.      Sudah kelihatan formatnya apakah dialog (bagaimana pokok dialognya) atau narasi (bagaimana pokok narasinya),
c.       Sudah dimulai adanya petunjuk-petunjuk teknis yang diperlukan.
Treatmen juga merupakan pembabakan. Sebuah film umumnya terdapat tiga babak. Sinopsis itu harus dipecah ke dalam tiga babak ini.
-          Babak pertama sebagai pengenalan setting, tokoh, dan awal masalahnya.
-          Babak kedua sebagai bagian berkecamuknya masalah.
-          Babak ketiga sebagai penyelesaiannya.
Yang tiga babak ini disebut dengan struktur tiga babak (tree acts structure). Ada juga yang disebut struktur sembilan babak (nine acts structure), sebagai pengembangan dari yang tiga babak. Yang sembilan babak ini terdiri dari:
-          Babak 1: kejadian buruk menimpa orang lain.
-          Babak 2: pengenalan tokoh utama (protagonis).
-          Babak 3: kejadian buruk menimpa protagonis, atau terlibat/dilibatkan kepada masalah orang lain pada babak 1.
-          Babak 4: protagonis dan antagonis
-          Babab 5: protagonis berusaha keluar dari masalah
-          Babak 6: protagonis salah mengambil jalan
-          Babak 7: protagonis mendapat pertolongan
-          Babak 8: protagonis berusaha keluar dari masalah lagi
-          Babak 9: protagonis dan antagonis berperang, menyelesaikan masalahnya.
Naskah yang disebut treatment ini lebih berkembang daripada step-outline. Sudah lengkap dengan action pokok pelaku. Boleh dikatakan treatmen adalah kerangka lengkap skenario. Hanya tinggal menambah pemanis disana-sini dan dialog, maka sudah menjadi skenario.
Pada penulisan treatment harus pakai nomor. Yakni nomor kelompok adegan atau adegan-adegan disuatu tempat. Maka itu tiap nomor disertakan keterangan tempat maupun waktu. Uraian treatment berisi:
1.      Menggambarkan “kerangka skenario” lengkap tapi padat.
2.      Penuturan sudah mengacu pada urutan Tiga babak dan penataan dramatik.
3.      Uraiannya harus ringkas, komunikatif dan efektif, supaya tidak terlalu tebal.
4.      Nama orang dan tempat sudah fix, sebagaimana yang akan tampil dalam skenario.
Dengan pembuatan treatment, kita sudah bisa melakukan pemendekan atau pengembangan uraian sesuai dengan tuntutan cerita dan tuntutan penataan dramatik. Karena dengan dialognya yang panjang lebar dan sudah susah payah kita ciptakan, sulit melakukan perubahan dan juga kita merasa enggan.
Pada saat menulis treatment kita dengan leluasa merencanakan aksi pelaku yang membuat adegan menjadi betul-betul hidup, realistik dan menunjang kebutuhan cerita/dramatik.
Treatment pada dasarnya merupakan urutan isi/materi program yang akan  disajikan episode demi episode secara ringkas. Bahasa yang dipakai dalam  treatment sudah merupakan bahasa visual sehingga orang yang membacanya  akan dapat merasakan alur sajian seperti kita lihat pada monitor/layar.

4.           Tujuan Treatmen

Dari sebuah treatmen orang bisa membayangkan apa saja yang akan terlihat di layar. Dengan kata lain treatmen adalah sebuah uraian mengenai segala urutan kejadian yang akan tampak di layar televisi/video. Uraian tersebut bersifat naratif tanpa menggunakan istilah teknis, seperti ketika seseorang menceritakan kembali pertunjukan yang baru saja dinikmati. Bila sudah berhasil menyusun treatmen maka dapat dikatakan bahwa pekerjaaan dalam menyususun skenario sudah setengah jalan.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Fungsi dan Peran Naskah dalam Program Audio Visual

Fungsi dan Peran Naskah dalam Program Audio Visual

Produksi sebuah program audio visual selalu dimulai dari ide atau gagasan yang kemudian dituangkan kedalam sebuah naskah atau script. Naskah merupakan sebuah landasan yang diperlukan untuk membuat sebuah program audio visual. Penulisan sebuah naskah program audio visual yang didasarkan pada sebuah ide biasanya mempunyai tujuan yang spesifik yaitu :
a) Memberi informasi (to inform)
b) Memberi inspirasi (to inspire)
c) Menghibur (to entertain)
d) Propaganda

Sebuah naskah mempunyai peran sentral dalam produksi sebuah program video dan televisi. Fungsi naskah dalam produksi program video dan televisi adalah sebagai berikut:
  • Konsep dasar (basic concept)
  • Arah (direction)
  • Acuan (reference)
Sebuah naskah adalah ide dasar yang diperlukan dalam sebuah produksi program audio visual. Kualitas sebuah naskah sangat menentukan hasil akhir dari sebuah program. Sebuah naskah pada umumnya berisi gambaran atau deskripsi tentang pesan atau informasi yang disampaikan seperti alur cerita, karakter tokoh utama, dramatisasi, peran/figuran, setting, dan property atau segala hal yang berkaitan dengan pembuatan sebuah program audio visual.
Sebuah naskah pada umumnya digunakan sebagai dokumen yang dapat mengarahkan sutradara dan kerabat kerja (crew) dalam bekerja menyelesaikan produksi program audio visual. Naskah sebuah program audio visual berisi beberapa informasi tentang adegan yang melibatkan aktor, setting dan property. Sutradara dan kerabat kerja perlu mematuhi isi dan alur cerita yang terdapat dalam sebuah naskah.
Sebuah naskah dapat digunakan sebagai referensi oleh sutradara dan kerabat kerja untuk mewujudkan sebuah ide atau gagasan menjadi sebuah progam audio visual yang komunikatif. Semua upaya kreatif dalam produksi dari sutradara dan kerabat kerja harus mengacu kepada sebuah naskah.
Dalam produksi program audio visual, naskah memiliki peranan penting, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.        Sebagai pedoman utama dalam pelaksanaan produksi
2.        Sebagai dasar penentuan peralatan yang akan dipergunakan
3.        Sebagai dasar penghitungan anggaran
4.        Sebagai dasar penentuan  pemeran
5.        Sebagai dasar penentuan kerabat kerja yang diperlukan
6.        Sebagai dasar penentuan kostum
7.        Sebagai dasar penentuan lokasi/dekorasi
8.        Sebagai dasar pedoman pengambilan gambar/shooting

9.        Dan yang terkait dengan proses produksi program lainnya.


Sumber:
Widyo Nugroho. Modul Cara Menulis Naskah Video (Skenario).

Penulisan Naskah dalam Program Audio Visual

 Penulisan Naskah dalam Program Audio Visual

Penulisan naskah dalam program audio visual misalnya film, televisi, termasuk video, selaanjutnya akan menjadi skenario (scenario). Skenario merupakan bentuk tertulis dari gagasan atau ide yang menyangkut penggabungan antara gambar dan suara, dimaksudkan sebagai pedoman dalam pembuatan film, sinetron atau program televisi. Beberapa pakar sinematografi mengemukakan bahwa skenario itu menjadi jiwa dan darah dalam produksi film atau cerita televisi.
Penulisan naskah untuk skenario pada dasarnya menggambarkan sekaligus menyuarakan apa yang ingin disampaikan. Urutan sinopsis-treatmen-skenario merupakan rangkaian yang baik untuk membuat naskah program audio visual. Baker (1981) mengemukakan juga pentahapan dalam membuat naskah, yaitu: concept, story board, dan script.
Setidaknya ada dua format naskah untuk penulisan naskah TV/video, yaitu double column dan wide margin.
a)        Format kolom ganda (double column)
Format ini lazim digunakan untuk menulis naskah informasi, dokumentasi, pendidikan. Format kolom ganda, lembar kertas dibagi menjadi dua kolom utama, yaitu kolom visual (kiri) dan kolom audio (kanan). Pada kolom kiri berisi uraian yang menyangkut visual. Misal gambar harus diambil dengan CU, kemudian zoom out, atau keterangan lain bagi kru kamera, termasuk siapa subyeknya, diambil dari mana, beberapa waktu lamanya pengambilan, dll.
Kolom kanan berisi segala sesuatu yang menyangkut audio yang berupa narasi, dialog para pelaku atau efek-efek suara lain yang diperlukan. Untuk memudahkan narator atau juru suara (sound man) maka dalam menulis kolom kanan, semua informasi yang tidak akan dibaca (disuarakan) ditulis dengan huruf capital. Sedang narasi atau dialog yang akan dibaca atau disuarakan ditulis dengan huruf kecil.

b)        Format Wide Margin
Format ini lebih lazim dipakai dalam cerita film atau sinetron. Dengan format wide margin tiap adegan (kumpulan dari beberapa shot-scene) diuraikan atau dijelaskan dengan bahasa visual. Petunjuk dialog diketik dua spasi ditengah, sedang apa yang akan nampak (visual) dijelaskan dalam bentuk paragraf.
Dialog biasanya diketik biasa, semua penjelasan untuk cameraman pengambilan gambar, ditulis dalam huruf kapital. Penjelasan untuk tingkah laku pemain ditulis dalam tanda kurung dengan huruf kapital pula.

Langkah-langkah penulisan sebuah program audio visual:
a)        Merumuskan ide
Ide sebuah cerita yang akan dibuat menjadi program video dan televisi dapat diambil dari cerita yang sesungguhnya (true story) atau non fiksi dan rekaan atau fiksi. Banyak sekali sumber ide yang dapat dijadikan inspirasi untuk menulis sebuah script video dan televisi. Misalnya, novel, cerita nyata, dan lain-lain. Film JFK merupakan contoh film yang digali dari peristiwa terbunuhnya salah seorang presiden termuda di Amerika Serikat. Oliver Stone, penulis sekaligus sutradara menggunakan banyak sumber informasi untuk membuat film tersebut sehingga dapat bertutur secara objektif.
b)        Riset
Riset sangat diperlukan setelah menemukan sebuah ide yang akan dibuat menjadi sebuah program. Riset dalam konteks ini adalah suatu upaya mempelajari dan mengumpulkan informasi yang terkait dengan naskah yang akan ditulis. Sumber informasi dapat berupa buku, koran atau bahan publikasi lain dan orang atau narasumber yang dapat memberi informasi yang akurat tentang isi atau substansi yang akan ditulis.
c)        Penulisan outline
Setelah memahami hasil riset atau informasi yang terkumpul, anda dapat membuat kerangka atau outline dari informasi yang akan Anda tuangkan menjadi sebuah script. Outline pada umumnya berisi garis besar informasi yang akan Anda akan tulis menjadi sebuah script.
d)       Penulisan sinopsis
Langkah selanjutnya adalah membuat sinopsis atau deskripsi singkat mengenai tema atau pokok materi program yang akan ditulis. Sinopsis dan outline akan membantu memfokuskan perhatian pada pengembangan ide yang telah dipilih sebelumnya. Penulisan sinopsis harus jelas sehingga dapat memberi gambaran tentang isi program video atau televis yang akan kita buat.
e)        Penulisan treatment
Menulis naskah harus didasarkan pada rencana yang telah dibuat yang meliputi outline, sinopsis dan treatment. Seorang penulis harus memiliki kreatifitas dalam mengembangkan treatment menjadi sebuah naskah.
Treatmen adalah uraian ringkas secara deskriptif, bukan tematis, yang dikembangkan dari sinopsis dengan bahasa visual tentang suatu episode cerita, atau ringkasan dari rangkaian suatu peristiwa. Artinya dalam membuat treatment bahasa yang digunakan adalah bahasa visual. Sehingga apa yang dibaca dapat memberikan gambaran mengenai apa yang akan dilihat. Dengan membaca treatment bentuk program yang akan dibuat sudah dapat dibayangkan.
Treatment yang ditulis dengan baik merupakan fondasi yang kokoh yang diperlukan untuk menulis sebuah naskah. Sebuah treatment harus berisi deskripsi yang jelas tentang lokasi, waktu, pemain, adegan dan property yang akan direkam ke dalam program video. Treatment juga menggambarkan tentang sistematika atau sequence program audio visual yang akan diproduksi.
f)         Penulisan naskah
Penulisan sebuah naskah harus didasarkan pada treatment yang dibuat. Walaupun dalam menulis naskah penulis dapat melakukan perubahan, tetapi sebaiknya perubahan yang dilakukan tidak merupakan perubahan yang bersifat substantif. Perubahan sebaiknya bersifat kreatif dan tidak mengubah substansi program. Oleh karena itu treatment harus kokoh dan jelas. Dalam menulis, penulis harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan naskah yang benar.
g)        Review naskah
Draf naskah yang telah selesai ditulis perlu ditelaah untuk melihat kebenaran substansinya dan juga cara penyampaian pesannya. Draf naskah harus ditelaah oleh orang yang mengerti substansi isi program (content expert) dan ahli media (media specialist).
h)        Finalisasi naskah
Finalisasi naskah merupakan langkah akhir sebelum naskah diserahkan kepada produser dan sutradara untuk diproduksi. Naskah final merupakan hasil revisi terhadap masukan-masukan yang diberikan oleh content expert dan ahli media.

Bentuk Program
Bentuk program dapat diartikan sebagai suatu pendekatan yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau isi program kepada pemirsa (audience). Bentuk program yang digunakan untuk menayangkan program video dan televisi sangat beragam yaitu:
a.         Drama
Inti dari sebuah program video dan televisi bebentuk drama adalah adanya konflik dari orang – orang yang terlibat (pelaku) di dalamnya. Program berbentuk drama biasanya dimulai dengan mengenalkan karakter dari orang – orang yang terlibat di dalamnya yang kemudian diikuti dengan konflik yang dibangun secara dramatik yang melibatkan para pelaku tersebut. Konflik ini biasanya diselesaikan pada akhir cerita. Penyelesaian konflik pada akhir cerita dapat berupa happy ending atau sebaliknya.
b.        Dokumenter
Dokumenter adalah program yang bercerita tentang suatu peristiwa yang telah berlangsung sebelumnya. Contoh film dokudrama yang kita kenal adalah Pengkhianatan G-30S PKI yang digarap oleh sutradara Arifin C. Noer, Pearl Harbour karya Jerry Bruckheimer dan JFK yang ditulis dan disutradarai oleh Oliver Stone. Film tersebut merupakan contoh – contoh film yang dikemas dengan menggunakan bentuk dokumenter.
c.         Talk show
Program talk show adalah program yang menampilkan pembicara, biasanya lebih dari satu orang, untuk membahas suatu thema atau topik tertentu. Program dengan format talk show biasanya dipandu oleh seorang moderator. Agar program talk show dapat menarik perhatian audience maka pembicara yang terlibat di dalam program harus memiliki latar belakang yang berlainan, pro dan kontra, terhadap topik yang dibahas.
d.        Demo
Contoh program berbentuk demo adalah program masak memasak atau membuat kue dan tip otomotif. Program demo biasanya membahas resep atau cara yang dipraktekan secara procedural - tahap demi tahap. Melalui program berbentuk demo, pemirsa dapat mempelajari dan menerapkan suatu keterampilan (skill).
e.         Musikal
Program musikal merupakan program yang menampilkan acara musik dan tarian sebagai hiburan. Tentunya Anda sering melihat program musikal yang ditayangkan di stasiun televisi. Banyak kemasan program yang digunakan oleh produser televisi untuk menayangkan program musikal. MTV program misalnya selalu menayangkan klip-klip video musik dari penyanyi terkenal untuk pemirsa kaum muda.
f.         Quiz
Bentuk program lain yaitu quiz. Saat ini kita dapat melihat banyak sekali program TV yang berbentuk quiz. Program berbentuk quiz biasanya berisi tantangan yang melibatkan pesertanya atau bahkan pemirsa untuk menjawab tantangan tersebut. Peserta yang berhasil menjawab tantangan akan memperoleh reward (hadiah) sebagai imbalan. Contoh program berbentuk quiz yang sangat dikenal yaitu Berpacu dalam melodi yang mengharuskan kontestan atau peserta menebak judul atau pencipta sebuah lagu berdasarkan penggalan nada yang dimainkan. Sekarang ini banyak quiz interaktif yang memeneri kesempatan audience terlibat langsung dengan program yang ditayangkan.
g.        Features
Features merupakan program yang berisi segmen-segmen yang dikemas dalam bentuk penyajian yang bervariasi. Sebuah program berbentuk features biasanya membahas suatu topik yang menarik dengan menggunakan beberapa bentuk penyajian atau pendekatan program.

Bentuk Naskah
Bentuk naskah dapat diklasifikasikan berdasarkan kelengkapan informasi yang terdapat didalamnya yaitu:
·           Kerangka naskah (Rundown script)
Rundown script adalah naskah yang berisi hanya garis besar (outline) dari informasi yang akan disampaikan kepada pemirsa. Sebuah rundown script pada umumnya memerlukan improvisasi dari presenter atau ahli (expert) yang akan muncul didalam program.
·           Semi naskah (Semi script)
Semi script adalah naskah yang sudah lebih rinci dari pada rundown script.
·           Naskah penuh (Full script)
Full script adalah naskah yang berisi informasi lengkap dan rinci tentang program yamg akan diproduksi. Dalam sebuah full script terdapat informasi yang rinci tentang pelaku, adegan, Setting dan property.

Bentuk Fisik Naskah
Berikut ini adalah beberapa bentuk fisik naskah, yaitu naskah satu kolom dan naskah dua kolom.
1.        Naskah Satu Kolom
     Dalam naskah satu kolom, penulisan deskripsi unsur audio dan visual tidak dipisahkan. Semua ditulis berurutan tanpa pemisahan kolom. Khusus untuk program yang akan direkam dengan multi kamera televise dan tidak dengan teknik film (satu kamera) perlu diperhatikan bahwa:
a.       Adegan (scene) tidak perlu diberi nomor urut karena  progresi perekaman akan terjadi bersamaan dengan saat penampilan.
b.      Pendekatan produksi video (multi kamera) biasanya post produksi tidak terlalu banyak bekerja. Misalnya, tidak banyak penyuntingan dan unsur dramatik sudah dilaksanakan pada saat perekaman.
2.        Naskah Dua Kolom
       Dalam naskah dua kolom penulisan deskripsi visual seperti setting, gerakan kamera, instruksi acting, dan efek visual dituliskan di kolom yang terpisah dari kolom audio. Jadi, kolom audio khusus untuk menuliskan unsur-unsur audio termasuk narasi, dialog, sound effect, musik, dan instruksi auditif.
      
      Pada prinsipnya, dari segi isi, naskah satu kolom dan dua kolom akan menghasilkan produk yang identik. Namun, dari segi tata letak tampak lebih konvensional. Walaupun demikian, dalam produksi yang sesungguhnya banyak sutradara lebih menyukai bentuk satu kolom. Alasannya, bagian kiri naskah yang kosong dapat digunakan sebagai tempat untuk membubuhkan catatan khusus arahan. Misalnya kapan harus CUT, atau DISSOLVE dari satu kamera ke kamera lain, tanda atau CUT gerak kamera atau objek, musik, sound effect, dan catatan sumbernya.

LOGIKA DAN ALGORITMA KOMPUTER (SIMULASI DAN KOMUNIKASI DIGITAL)

PERTEMUAN KEDUA SIMULASI DAN KOMUNIKASI DIGITAL  SMKN 1 CARIU Tahun Ajaran 2020/2021 "LOGIKA DAN ALGORITMA KOMPUTER...