Minggu, 09 Februari 2014

KULIAH SAMBIL BEKERJA

Disaat kita mulai kuliah pasti kita pernah merasa "udah gede tapi masih nyusahin orang tua".. itu adalah hal yang saat itu aku rasakan. Aku pun berpikir gimana nih caranya biar dapat uang tanpa harus meminta kepada orang tua tapi sedang kuliah. Akhirnya aku dan temen-temenku yang kebetulan sepemikiran denganku akhirnya mencari kerja part time, mulai dari toko-toko sampai ke mall-mall yang ada di sekitar Depok.
Pada tahun pertama kita ga pernah ada panggilan kerja. akhirnya kita memutuskan kembali untuk mencari kerja dengan menaruh lamaran ke tempat-tempat yang memang membutuhkan mahasiswa sebagai pekerjanya,

Yang pertama adalah tempat bimbel. Walaupun ga terlalu Genius tapi alhamdulillah bisa menguasai materi-materi anak sekolahan, asal bisa menyampaikan dengan baik kepada murid-muridnya, insyaallah mereka akan mengerti apa yang disampaikan. Alhamdulillah anak-anak senang padaku, bahkan sebagian murid memfavoritkanku dan untuk gajinya, lumayan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari di kostan. Kita juga dapat pengalaman bagaimana caranya menghadapi anak-anak yang bandel, berisik, dan susah diatur..




Selanjutnya Aku  mencoba mencari pekerjaan part time ke dua, untuk Sabtu dan Minggu, ma hari-hari libur yaitu ke tempat makan. Salah satunya adalah Pizza Hut Margo City, alhamdulillah keterima dengan test terlebih dahulu. Walaupun jadwal masuknya jarang-jarang karena menyesuaikan jadwal kuliahku tapi gajinya lumayan buat nambah-nambah gaji ngajarku.



Pekerjaan ketiga adalah ikutaan lomba-lomba dan ikutan penelitian-penelitian antar Perguruan Tinggi. Lumayan kalau menang bisa dapat hadiah dan juga menambah prestasi kita.. Alhamdulillah aku dan kelompokku bisa lolos PKM-Penelitian.



So... banyak pekerjaan yang dapat digeluti oleh Mahasiswa. Jangan takut untuk berusaha.!!!!

Rabu, 29 Januari 2014

Target Pertama


Ketika mendengar pengumuman PKM lolos, rasanya bahagia banget, ga nyangka juga bisa lolos...
Itu merupakan salah satu pencapaianku di tahun 2014..
Aku bersama temanku Sifa Fauziah, Sitty Nuranna, Chumaira, mencoba untuk mengajukan proposal PKM penelitian dan mulai mengerjakan proposal dengan waktu yang sangat mendesak yaitu sejak tanggal 23 Oktober 2013 sampai di revisi sama pihak Universitas pada 26 Oktober 2013, Selanjutnya kami mengumpulkan Proposal dan mengupload ke Dikti Pada 29 Oktober 2013....
Banyak perjuangan dalam menyusun proposal ini, mulai dari meminta tanda tangan dari dosen pembimbing, pimpinan kemahasiswaan, sampai hujan-hujanan, izin kuliah... 
Tapi semua itu terbayar sudah... Pada 29 Januari 2014, kelompokku akhirnya lolos PKM Penelitian...!!!!

Terima kasih Sifa Fauziah, Sitty Nuranna yang udah bantu wujudin keinginanku buat ikutan PKM...

Rabu, 08 Januari 2014

IKLAN



1.        Definisi Iklan
Periklanan merupakan alat utama yang digunakan oleh perusahaan atau produsen untuk mengarahkan komunikasi yang meyakinkan kepada sasaran pembeli dan publik. Periklanan adalah komunikasi yang tidak dilakukan secara langsung antar individu dengan sejumlah biaya dengan berbagai media yang dilakukan oleh perusahaan, lembaga yang tidak mencari keuntungan, serta individu-individu (Setiyowati, 2008).
Iklan dapat berupa lisan ataupun visual yang ditujukan kepada individu atau masyarakat. Isinya dapat berupa pemberitahuan mengenai suatu produk, jasa ataupun ide-ide (Setiyowati, 2008).
Kehadiran iklan tidak hanya diperlukan oleh perusahaan semata-mata, tetapi juga oleh masyarakat luas. Artinya dengan adanya iklan maka masyarakat jadi tahu akan kelebihan dan keuntungan yang akan diperoleh daripada barang atau jasa yang dianjurkan tersebut. Kemudian dengan adanya iklan pula, masyarakat jadi mudah mencari dimana tempat untuk mendapatkan barang atau jasa, sesuai dengan yang diinginkannya.
Mengenai pengertian iklan sendiri, banyak para ahli yang telah menyumbangkan pemikiran, seperti C.H. Sandage dalam bukunya Advertising Theori and practice yang mengatakan, bahwa iklan adalah : “The dissemination of information, concerningidea, service or product to compel action in accordance with the intent of the advertiser, (Iklan adalah penyebaran informasi berupa ide, pelayanan atau produk untuk menimbulkan kegiatan sesuai dengan yang diinginkan oleh si pemasang iklan )“ (Danan Djaja, 1985:110). Disini jelas dikatakan, bahwa iklan merupakan penyebar informasi yang tidak hanya sekedar untuk memberitahukan sesuatu, tetapi juga sekaligus untuk menimbulkan kegiatan dari masyarakat sesuai dengan yang dianjurkan. Kemudian William Spriegel memberikan pedoman tentang pengertian iklan, seperti berikut: “kegiatan periklanan mengandung unsur penyewaan ruangan atau waktu dalam suatu media massa demi penggunaannya, serta penyajian yang non-pribadi (artinya bukan oleh seseorang secara berhadapan)”. (Phil Astrid S. Susanto, 1997:200).
Dari pendapat William Spriegel ini menunjukkan bahwa penyajian suatu iklan tidak dilakukan secara berhadapan langsung antara penjual dengan pembeli tetapi melalui suatu media. Oleh karena itu, periklanan mungkin lebih lama memberikan reaksi positif, akan tetapi mencari jaminan dalam jangka panjang.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa pengertian iklan adalah :
a.       Tindakan atau usaha memperkenalkan hasil produksi melalui gambar, kata-kata slogan atau simbol dari pada hasil produk tersebut melalui komunikasi langsung yang ditujukan kepada khalayak ramai agar dibeli dan menimbulkan minat masyarakat untuk membeli dan memilikinya.
b.      Usaha peningkatan penjualan hasil produk melalui media komunikasi massa supaya dikenal secara cepat dan tersebar di pasar.
c.       Sarana informasi bagi masyarakat dalam menentukan dan menumbuhkan minat, sikap serta tindakan.
d.      Salah satu sarana penghidupan bagi media massa dan surat kabar pada khususnya.

2.        Perkembangan Iklan
Periklanan dalam arti modern, merupakan usaha untuk memberi informasi tentang suatu produk atau jasa kepada khalayak dan merupakan suatu gejala masyarakat yang maju. Gejala ini boleh dikatakan khas, mengingat bahwa barang atau jasa tidak dijual bersamaan dengan pemberian informasi, serta pemberian informasi terjadi pada umumnya melalui media massa. Karena itu syarat utama bagi apa yang kini disebut periklanan ialah adanya media, terutama media massa.
Walaupun surat kabar yang dikenal sebagai surat kabar pertama seperti Nathaniel Butter’s Weekly News sudah dikenal dalam tahun 1622 di Inggris, namun ternyata bahwa surat kabar itu belum memuat iklan. Yang dikenal di Inggris sebagai pembawa iklan yang pertama, ialah Mercurius Eritannius.
Di Inggris kemudian dikenal suatu surat kabar yang mengkhususkan diri dalam periklanan pada tahun 1682, yaitu “A collection for the Improvement of Husbandry and Trade”, sehingga terbitan bukan saja membawa berita jual-jual produk pertanian dan perdagangan pada umumnya, tetapi juga sudah membawa iklan tentang “lowongan kerja” dan “mencari pekerjaan”, seperti juga “berita benda yang hilang” dan “berita ditemukan”. Surat kabar yang diterbitkan oleh Jhon Houghton ini, akhirnya juga memuat berita pernikahan dan pencaharian jodoh, juga seperti ulasan buku serta berita dimana dapat membelinya. Dalam abad ke-18 dan ke-19 di dalam dunia persurat kabaran Inggris terjadi satu kemunduran di bidang kegiatan periklanan, karena surat kabar memperoleh status yang lebih tinggi, sehingga Henry Colburn penerbit dari surat kabar berbobot elit Anhenaum and Frazer’s menghindari iklan berbau “picisan”. Akibat daripadanya ialah bahwa dalam periode ini iklan mini (classifiedads) berkembang, yang akhirnya dapat menghasilkan 9.000 poundstarling.
Lambat laun pasaran massa sebagaimana dikenal sekarang, makin berkembang terutama dalam abad ke-19 dengan menggunakan berbagai tricks seperti penggunaan lagu-lagu populer atau pepatah yang mudah mengingatkan seseorang akan suatu produk tertentu, menggunakan pengulangan serta pendekatan tehnik erudisi dengan menggunakan tehnik pseudo ilmiah demi “peningkatan status sosial“ kepada pemakai satu produk. Namun tidak semua pedagang kaya menganggap bahwa surat kabar sebagai satu-satunya media yang dapat menghubungkan dirinya (produk atau jasanya) dengan khalayak sasaran, sehingga mulai penggunaan tehnik penggunaan papan tempel (billboards) serta penggunaan iklan pada kendaraan – kendaraan yang membawa produknya, sehingga pemerintah kotamadya London dalam tahun 1839 sudah mengeluarkan apa yang dikenal sebagai metropolitan Police Act, 1839 yaitu yang mewajibkan izin penempelan poster atau pemasangan papan tempel di tempat-tempat umum, di samping izin rekomendasi dari polisi setempat. Dalam suasana ini kegiatan periklanan memperoleh citra negatif dan terutama dikenal sebagai “ kasar dan tidak benar “, sehingga perusahaan-perusahaan besar akhirnya kembali dengan hanya mencantumkan pada papan tempel sekedar nama perusahaan dan produknya untuk mengingatkan khalayak. (Phil Astrid S. Susanto, 1997:188).
Langkah kemajuan berikut dalam periklanan terutama melalui pers dilakukan oleh Thomas J. Bart dari Pears Soap Co, yang untuk pertama kalinya menggunakan artis-artis yang terkenal sebagai pembawa iklannya. Demikian pula kemajuan dalam bidang Lithography yang diperkenalkan dari Perancis, akhirnya mengakibatkan penggunaan pengaruh artis-artis untuk iklan. Dalam abad ke-19 terutama cara pencetakan iklan dalam cara Toulouse Lautrec dari Moulin Rouge sangat menonjol dan hingga kini kadang-kadang masih dipakai.
Namun baru sejak akhir abad ke- 19 yaitu dalam tahun 1880 Lord Northcliffe sendiri, yang mengubah citra dari iklan karena mengaitkannya dengan eksistensi surat kabar. Sejak itu pendapat, bahwa suatu surat kabar hanya dapat bertahan dalam eksistensinya apabilala 50% dari kertas yang dipergunakan ditunjang oleh iklan, menjadi populer. Sehingga lahirlah apa yang dikenal sebagai Display Advertisements atau iklan berukuran besar dalam surat kabar. Hal ini dimungkinkan karena pada akhir abad ke-19 sistem distributor untuk penjualan produk makin berkembang, yaitu berkembangnya sistem penjual eceran.

3.        Jenis-jenis Iklan
Jika seseorang berhadapan dengan surat kabar, majalah, radio dan televisi, seketika melihat adanya pesan yang menawarkan mengenai keunikan suatu barang
atau melayani suatu jasa, maka kita mengatakan itu iklan. Iklan juga ada di papan-papan reklame di perempatan ramai dengan lampu berwarna-warni, ditempelkan di dinding bis-bis kota, atau dibagikan pedagang asongan waktu menunggu lampu hijau dalam kendaraan untuk bergerak maju.
Iklan terdiri atas dua jenis : pertama iklan standar, dan kedua iklan layanan masyarakat. Jika kemudian terdapat jenis-jenis yang lain, maka itu merupakan perluasan dari kehadiran kedua jenis iklan tersebut, demikian dinyatakan oleh Bitter dalam bukunya Mass Communication, an introduction. (Alo Liliweri, 1992: 31).
Iklan standar, adalah iklan yang ditata secara khusus untuk keperluan memperkenalkan barang, jasa pelayanan untuk konsumen melalui sebuah media massa. Tujuan iklan standar, adalah merangsang motif serta minat para pembeli atau para pemakai. Karena akibat iklan telah merangsang pembeli melalui daya tariknya yang besar, maka iklan menggugah minat, perasaan konsumen dan mengambil sikap terhadap barang atau jasa yang ditawarkan tersebut. Sebagian besar iklan standar pesan-pesannya ditata secara profesional oleh lembaga periklanan. Kehadiran lembaga seperti ini, sangat dibutuhkan oleh para pemasang iklan yaitu mereka yang mempunyai barang, jasa, ide serta gagasan yang ingin ditawarkannya itu.
Pesan-pesan iklan ini disusun secara mantap baik dalam kata, kalimat, memilih gambar dan warna, tempat pemasangan atau media yang cocok, menjangkau jenis khalayak sasaran tertentu, menyebarkannya pada waktu yang pas yang seluruhnya berada dalam penanganan orang-orang profesional.
Jenis iklan layanan masyarakat adalah iklan yang bersifat nonprofit, jadi iklan ini tidak mencari keuntungan akibat pemasangannya kepada khalayak. Hal ini berbeda dengan iklan standar, yang mengharapkan dari pemasangan iklannya menggaet keuntungan atas penjualan barang produksinya. Umumnya iklan layanan masyarakat, bertujuan memberikan informasi dalam rangka pelayanan dengan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi, bersikap positif terhadap pesan yang disampaikan.
Dan iklan layanan masyarakat tidak terlalu terikat pada penetapan yang ketat, perancangan pesan yang rumit, pemilihan media yang sesuai, sampai pada penentuan khalayak sasaran serta pemilihan tempat dan juga waktu yang benar-benar pas.
Untuk selanjutnya iklan secara umum dapat dibagi atas :
a. Iklan Tanggung Jawab Sosial
Adalah iklan yang bertujuan untuk menyebarkan pesan – pesan yang bersifat informatif, penerangan, dan pendidikan agar membentuk sikap warga masyarakat sehingga mereka bertanggung jawab terhadap masalah sosial juga kemasyarakatan tertentu. Tanggung-jawab ini merupakan bagian dari kewajiban masyarakat secara moral maupun material yang ditunjukkannya dalam aktivitas sosial.
b. Iklan Bantahan
Iklan ini diajukan melalui media massa untuk membantah dan memperbaiki citra suatu produk, yang namanya sudah tercemar di kalangan masyarakat akibat suatu informasi yang tidak benar. Perusahaan yang memproduksi produk itu dapat mengajukan iklan melalui kuasa hukum/pengacara untuk membantah ketidak benaran informasi tersebut.
c. Iklan Pembelaan
Iklan ini mirip sebenarnya dengan iklan bantahan, namun iklan pembelaan merupakan iklan yang diajukan untuk membela keberadaan suatu barang, jasa, ide atau gagasan tertentu dari pengajuan atau klaim dari pihak yang lain terhadap suatu produk tertentu, terutama sekali pembelaan ini terhadap hak paten.
d. Iklan Perbaikan
Iklan perbaikan adalah iklan yang memperbaiki pesan-pesan tentang suatu produk tertentu yang terlanjur salah dan disebarluaskan melalui media massa. Jenis iklan seperti ini terlihat misalnya dalam iklan untuk memperbaiki isi iklan yang sama tentang suatu produk pada edisi terbitnya suatu media beberapa waktu sebelumnya.
e. Iklan Keluarga
Iklan keluarga adalah iklan yang pesan-pesannya merupakan pemberitahuan tentang terjadinya suatu peristiwa kekeluargaan kepada keluarga/khalayak lainnya. Sebagai contoh, iklan perkawinan, iklan ucapan selamat hari raya, iklan ucapan selamat sukses, iklan kematian atau turut berduka cita dan sebagainya.

Sementara itu Bovee membuat pembagian iklan yang lebih spesifik, yaitu:
a. Iklan berdasarkan khalayak sasaran psikografis.
Berdasarkan khalayak sasarannya, iklan dapat dibagi atas iklan untuk konsumen dan iklan untuk bisnis.
b. Iklan berdasarkan khalayak sasaran geografis.
Jenis iklan ini diarahkan untuk menjangkau khalayak dalam suatu wilayah tertentu. Berdasarkan itu, iklan dibagi atas iklan internasional, iklan nasional, iklan regional dan iklan lokal.
c. Iklan berdasarkan penggunaan media.
Penyebarluasan iklan harus melalui media yang dipilih secara khas sesuai dengan keputusan pengiklannya. Pilihan terhadap media yang digunakan sebagai penyebar iklan dapat dilakukan melalui media cetak dan media elektronik.
d. Iklan berdasarkan fungsi dan tujuan.
Setiap iklan mempunyai fungsi tertentu serta mempunyai tujuan tertentu pula. Jenis iklan ini terbagi atas iklan tentang produk-produk, iklan komersial bukan komersial, serta iklan berdampak langsung bukan langsung.

4.        Macam-macam iklan
a.   IKLAN TAKTIS
Iklan yang memberikan penawaran spesial seperti discount serta bersifat jangka pendek yang membuat para pembeli akan segera membeli produk tersebut.

 b.  IKLAN LAYANAN MASYARAKAT
Iklan Layanan Masyarakat atau Public Service Advertising merupakan iklan yang mengajak masyarakat untuk melakukan suatu tindakan untuk merubah perilaku  menjadi lebih baik.

c.  IKLAN COMMERCIAL
Iklan comercial merupakan iklan untuk mempromosikan suatu produk ataupun jasa agar orang yang melihat tertarik dengan produk atau jasa yang ditawarkan.



5.      Fungsi dan Tujuan Iklan
Menurut Alo Liliweri (1998) yang dikutip dari beberapa sumber seperti Wright (1978), S.W. Dunn (1978) dan Bover (1976) dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Fungsi Pemasaran
Adalah fungsi untuk menjual informasi tentang barang, jasa maupun gagasan melalui media sebagai upaya:
¨        Mengidentifikasi produk dan menjelaskan perbedaannya dengan produk lain.
¨        Menganjurkan penggunaan produk baru secara bertahap.
¨        Menunjang penyebaran untuk peningkatan penggunaan produk.
¨        Membangun rasa cinta dan dekat pada produk untuk mengikat konsumen dalam jangka waktu yang lama.
b. Fungsi Komunikasi
Adalah upaya penerangan dan informasi tentang produk, memberi pesan yang berbau pendidikan, menciptakan pesan yang bersifat menghibur dan mempengaruhi khalayak untuk dekat dan selalu membeli dan memakai produk secara bertahap.
c. Fungsi Pendidikan.
Melalui iklan orang dapat belajar sesuatu dari yang dibacanya, ditonton maupun didengar. Khalayak dapat mengkonsumsi produk yang sesuai untuk merek dan merek dapat memperbaiki gaya hidup menjadi lebih baik.
d. Fungsi Ekonomi.
Keuntungan ekonomis yang diperoleh khalayak melalui iklan adalah mereka lebih mudah mengakses produk yang dibutuhkan yang bisa menjadi khalayak efisien dari segi biaya.
e. Fungsi Sosial.
Dalam fungsi sosial iklan membantu menggerakkan perilaku khalayak untuk lebih baik.

Tujuan Iklan
Dengan adanya promosi periklanan, maka diharapkan akan terjadi perdagangan. Dengan adanya iklan ini jugalah penjualan dan pembelian suatu produk akan meningkat.
Menurut Setiyowati (2008), tujuan dari periklanan adalah:
1. Mendukung program personal selling dan kegiatan promosi lain
2. Mencapai orang-orang yang tidak dapat dicapai oleh tenaga penjualan ataupun salesman dalam jangka waktu tertentu
3. Mengadakan hubungan dengan para penyalur, misal dengan mencantumkan nama dan alamatnya
4. Memasuki daerah pemasaran baru atau menarik pelanggan baru
5. Memperkenalkan produk baru
6. Menambah penjualan industri
7. Mencegah timbulnya barang-barang tiruan
8. Memperbaiki reputasi perusahaan dengan memberikan pelayanan umum melalui periklanan.

Pada umumnya periklanan menpunyai tiga tujuan utama (3R) yaitu :
a) Retain : mempertahankan pelanggan ‘loyal’, mengimbau pelanggan yang ada
untuk meningkatkan pembelian mereka.
b) Retrieve : menarik kembali pelanggan yang ‘hilang’, memperlambat arus
pelanggan yang sekarang menjauh dari merek yang disenangi.
c) Recruit : merekrut pelanggan ‘baru’, meningkatkan arus pelanggan kearah produk yang diiklankan, mangganti pelanggan yang pindah ke pesaing, serta secara umum memperluas pasar secara keseluruhan (Jackson dan Musselman 200:69 dalam ibid).

6.        Sasaran Iklan
Dalam mempublikasikan suatu produk, selain mempertimbangkan sasaran, perlu dipertimbangkan pihak-pihak yang berhubungan dengan iklan dan sasarannya.
Menurut Setiyowati (2008), iklan sebaiknya disusun dengan memperhatikan beberapa hal yaitu:
1. Para pembeli dan pemakai di waktu sekarang
2. Mereka yang memilki potensi sebagai pembeli
3. Mereka yang memilki kekuasaan memutuskan membeli
4. Mereka yang menjadi pembeli atau pemakai diwaktu yang akan datang
5. Mereka yang dapat dipengaruhi orang lain untuk membeli atau memakai barang yang diiklankan
6. Pasar pedagang
7. Pasar pesaing.

7.        Etika dalam Periklanan
Untuk membuat konsumen tertarik, iklan harus dibuat menarik bahkan kadang dramatis. Tapi iklan tidak diterima oleh target tertentu (langsung). Iklan dikomunikasikan kepada khalayak luas (melalui media massa komunikasi iklan akan diterima oleh semua orang: semua usia, golongan, suku, dsb). Sehingga iklan harus memiliki etika, baik moral maupun bisnis.
Etika?
Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (KBBI)
Ciri-ciri iklan yang baik
  • Etis: berkaitan dengan kepantasan.
  • Estetis: berkaitan dengan kelayakan (target market, target audiennya, kapan harus ditayangkan?).
  • Artistik: bernilai seni sehingga mengundang daya tarik khalayak.
Contoh Penerapan Etika
  • Iklan rokok: Tidak menampakkan secara eksplisit orang merokok.
  • Iklan pembalut wanita: Tidak memperlihatkan secara realistis dengan memperlihatkan daerah kepribadian wanita tersebut
  • Iklan sabun mandi: Tidak dengan memperlihatkan orang mandi secara utuh.
ETIKA SECARA UMUM
  • Jujur : tidak memuat konten yang tidak sesuai dengan kondisi produk yang diiklankan
  • Tidak memicu konflik SARA
  • Tidak mengandung pornografi
  • Tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
  • Tidak melanggar etika bisnis, ex: saling menjatuhkan produk tertentu dan sebagainya.
  • Tidak plagiat.
8.        Kriteria Iklan Bagus dan Jelek
Perdebatan sebuah penilaian iklan pada masing-masing individu mempunyai perbedaan persepsi dari sudut pandang masing-masing.

Sebuah iklan yang bagus harus memiliki UNSUR SUPER "A"
  • Simpel
Berarti harus sederhana dapat dimengerti dengan hanya sekali lihat pengertian simple dapat diartikan tidak banyak elemen dan komunikatif. Komunikatif berarti mempunyai kekuatan untuk mengajak konsumen berkomunikasi.
  • unexpected (Tak terduga)
Sebuah iklan harus tidak terduga : Unik dapat menempatkan diri dalam benak pikiran masyarakat. Iklan yang unexpected akan jauh lebih di ingat oleh konsumennya. Lebih dihargai dan akhirnya akan menjadi topof mind, paling tidak dalam segmennya.
  • Persuasive
Sebuah iklan harus meyakinkan: Daya bujuk mempunyai pengaruh untuk membujuk orang untuk melakukan sesuai keinginan dalam iklan tersebut. Iklan yang persuasive dapat mendekatkan diri dengan Brand kita dan tertarik untuk mencobanya.
  • Entertaining
Sebuah iklan harus menghibur, menghibur tidak harus selalu lucu tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu memainkan emosi audience.
  • Relevant
Sebuah iklan harus saling berhubungan dengan brand produknya.
  • Acceptable
Sebuah iklan harus bisa diterima secara pribadi.

Sabtu, 07 Desember 2013

Pengemis dan Mental Miskin

http://bulletinmetropolis.com/home/wp-content/uploads/2009/08/Pengemis.jpg



Menurut KBBI peng.e.mis [n] orang yg meminta-minta. Mengemis atau sering kita artikan sebagai pekerjaan meminta-minta karena dia tidak memiliki pekerjaan yang layak serta tidak mampu mecukupi kebutuhan hidupnya ternyata berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi saat ini. Banyak pengemis yang ternyata di kampungnya adalah orang yang mampu, memiliki rumah yang layak, kendaraan mewah, dan binatang ternak yang banyak serta alat elektronik yang canggih. Lihat ini Pengemis kaya Indonesia dan Pengemis Kaya Dunia

Sekarang Pengemis memiliki berbagai strategi untuk mendapatkan simpati dari orang, mulai dari memasang gips pada badannya agar dia kelihatan cacat, menengadahkan tangan dengan wajah memelas, membawa anak kecil agar dikasihani, menaruh wadah kosong di depan pengemis itu, bahkan saya pernah melihat strategi lain yang mereka lakukan sekarang adalah menaruh uang yang sudah penuh didalam wadah ke dalam tas yang dia bawa sehingga wadahnya kembali kosong dan dapat menarik simpati orang termasuk saya... Ukh kesel banget, ikhlas sih ngasih tapi pas tau kayak gitu saya seperti dibohongi.
Ada lagi pengalaman teman saya (Endah P), tepatnya di stasiun kereta api, kebetulan dia pulang pergi kuliah naik kereta. Dia disamperi oleh ibu-ibu dan anaknya, meminta-minta dengan wajah memelas dan menawarkan beras beberapa liter dengan alasan dia tidak memiliki ongkos untuk pulang ke rumahnya yang jauh entah dimana, karena merasa kasihan teman saya berinisiatif memberinya uang beberapa lembar  untuk dia pulang tanpa harus membeli berasnya. Eh setelah mereka pergi, ternyata mereka malah ke warung dan membeli rokok, ibu dan anak itu malah merokok di tempat yang masih ada teman saya itu. Otomatis teman saya langsung kesel disitu, "ya tar dulu kek, jangan di depan gue juga kali, mana untuk beli rokok doang".
Belum lagi sekarang di sekitar kampusku di Margonda banyak banget pengemis anak kecil, seperti memaksa dan terus menunggu sampai kita ngasih uang, otomatis orang memberinya, padahal ya yang saya lihat hasil dia mengemis malah dibelikan rokok, padahal mereka masih kecil-kecil. 

Ya ampun.... apa yang terjadi dengan mental pengemis sekarang ini?????
Bayangkan saja penghasilan pengemis dalam seebulan bisa mencapai puluhan juta. Seperti dikutip dalam Merdeka.com Menurut Suku Dinas Jaksel, dalam sehari pengemis di Jakarta bisa mengantongi penghasilan sekitar 750 ribu sampai 1 juta.
Gila ya.. ngalahin gajiku dan gaji manajer sekalipun hanya bermodal muka memelas mendapatkan simpati orang, walaupun kita hanya memberi uang receh sekalipun.

Itulah yang menyebabkan mental Pengemis menjadi mental miskin, dia menjadi malas untuk bekerja yang layak, halal dan bermanfaat. Dia merasa dengan pekerjaan mengemis dia bisa mendapatkan uang banyak tanpa harus capek cuma dengan modal muka memelas. Bahkan pada saat Pemerintah Kota Depok Menawarkan pekerjaan kepada mereka sebagai tukang sapu jalan dengan gaji 1 juta per bulan, mereka menolaknya, karena merasa gaji sebagai pemulung lebih besar daripada tukang sapu. Menolak Pekerjaan yang layak  Oh No....!!!!!

Kita sebagai orang yang berpendidikan dan peduli terhadap mental bangsa ini, Marilah kita bangun bangsa ini dengan sebaiknya, mulai dari tidak memberi uang pada pengemis, pengamen, dll. walaupun itu hanya 100 rupiah. Bagaimana jika kita terus-terusan memberi mereka uang untuk kebaikan mereka, tapi malah disalah gunakan oleh mereka.? 
Bagaimana jika pada saat yang kita beri adalah anak-anak..???? 
Bagaimana kalau dia berpikir "enak ya mengemis, cuma meminta-minta terus dapat uang"...?
Maka akan semakin banyak orang kampung yang berminat untuk datang ke kota sebagai pengemis jalanan. Lebih baik kita bersedekah ke Badan atau Yayasan yang memang membutuhkan, biasanya ada di kotak amal mesjid,  itu jauh lebih bermanfaat.
Kesadaran kita jauh lebih penting daripada dibuat peraturan tapi tidak dilaksanakan.!!!

Rencananya sih saya ingin membuat film dokumenter mengenai kehidupan pengemis ini, tapi takut terkendala dengan narasumber dan pengemis di jalanan. Tapi semoga saja berjalan lancar dan bisa terealisasi. Amiiiin...

AYO BANGUN BANGSA INI DENGAN MENTAL KERJA KERAS DAN KEJUJURAN

Selasa, 26 November 2013

Analisis Wacana Kritis (CDA)

Analisis Wacana Kritis

a.       Pengertian
Michael Stubbs dalam Slembrouck (Slembrouck, 2006)  menyatakan bahwa wacana memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut, (a) memberi perhatian terhadap penggunaan bahasa (language use, bukan language system) yang lebih besar daripada kalimat atau ujaran, (b) memberi perhatian pada hubungan antara bahasa dengan masyarakat dan (c) memberi perhatian terhadap perangkat interaktif dialogis dari komunikasi sehari-hari. Slembrouck juga menekankan bahwa analisis terhadap wacana tidak memandang secara bias antara bahasa lisan atau tertulis, jadi keduanya dapat dijadikan objek pemeriksaan analisis wacana.
Crystal dan Cook dalam Nunan (Nunan, 1993) mendefinisikan wacana sebagai unit bahasa lebih besar daripada kalimat, sering berupa satuan yang runtut/koheren dan memiliki tujuan dan konteks tertentu, seperti ceramah agama, argumen, lelucon atau cerita. Nunan melihat unsur-unsur keruntutan dan koherensi sebagai hal yang penting untuk menilai sebuah wacana. Sementara Lubis (Lubis,1994) mendefinisikan wacana sebagai 'kumpulan pernyataan-pernyataan yang ditulis atau diucapkan atau dikomunikasikan dengan menggunakan tanda-tanda.
Berkembangnya studi wacana atau analisis wacana dalam ranah linguistik ini merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap mazhab linguistik formal struktural yang cenderung lebih terpaku pada sistem kebahasaan terhadap unit mikro seperti imbuhan, kata, frasa, klausa dan kalimat, dan kurang peduli terhadap penggunan bahasa (language use). Padahal makna sering tidak bisa dipahami secara komprehensif dalam kata, klausa atau kalimat yang terpilah dari konteksnya. Makna sering harus dilihat dalam unit yang lebih besar dan luas seperti percakapan, dan harus mempertimbangkan konteks.
Istilah wacana yang digunakan dalam Critical Discourse Analysis (CDA) yang dikembangkan para ahli linguistik sosial seperti Norman Fairclough, Teun van Dijk, Ruth Wodak memiliki pemahaman yang berbeda dari pemahaman di atas. Dalam konteks ini wacana dimaknai sebagai pernyataan-pernyataan yang tidak hanya mencerminkan atau merepresentasikan melainkan juga menkonstruksi dan membentuk entitas dan relasi sosial.
Dalam studi ideologi dan relasi kekuasaan kita sering harus mempersoalkan wacana yang berkembang agar dapat memahami ideologi tersebut secara maksimal. Menurut Van Dijk (Dijk,2000) ideologi membawa pengaruh terhadap wacana, dan wacana berperan penting dalam pembentukan ideologi. Pemahaman terhadap ideologi dengan demikian harus disertai dengan pemahaman terhadap wacana seperti apa yang telah berperan dalam membangun ideologi tersebut.
Kata kritis (critical) dalam CDA membawa konsekuensi yang tidak ringan. Pengertian kritis di sini bukan untuk diartikan secara negatif sebagai menentang atau memperlihatkan keburukan-keburukan dari subjek yang diperiksa semata. Kata kritis menurut Wodak hendaknya dimaknai sebagai sikap tidak menggeneralisir persoalan melainkan memperlihatkan kompleksitasnya; menentang penciutan, penyempitan atau penyederhanaan, dogmatisme dan dikotomi. Kata kritis juga mengandung makna refleksi diri melalui proses, dan membuat struktur relasi kekuasaan dan ideologi yang pada mulanya tampak keruh, kabur dan tak jelas menjadi terang. Kritis juga bermakna skeptis dan terbuka pada pikiran-pikiran alternatif (Wodak, 2007).

b.      Metodologi
Analisis wacana merupakan teori atau metode analisis yang banyak menggunakan teknik interpretasi. Pada tingkat lanjut interpretasi yang dilakukan mengacu pada model dekonstruksi yang dikembangkan Derrida, yakni model pembacaan yang yang dilakukan guna menunjukkan apa yang terkubur atau tersembunyi di balik ujaran. Karena bersifat interpretatif maka reliabilitas dan validitas analisis sering dipertanyakan. Tetapi reliablilitas dan validitas ini bisa dipertanggungjawabkan melalui logika dan rasional dari argumen-argumen yang dihasilkan. Dengan kata lain validitas penelitian tergantung pada kualitas logika analisis serta kualitas retorik dari argumen yang digunakan peneliti dalam membahas data.
CDA juga bersifat eksplanatif atau menjelaskan bukan sekadar deskriptif, sehingga peneliti tidak boleh terjebak dalam analisis yang bersifat superficial atau kulitan. Antaki et al memerinci beberapa kelemahan metodologis CDA yang sering ditemukannya dalam laporan hasil penelitian atau tulisan dalam jurnal ilmiah. Di antara kelemahan-kelemahan metodologis tersebut adalah perancuan antara analisis wacana dengan peringkasan atau deskripsi wacana, minimnya penjelasan terhadap kutipan wawancara, dan keberpihakan dalam melakukan analisis.

c.       Tujuan
Melalui CDA peneliti dapat mengajak masyarakat untuk melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ontologis dan epistemologis tentang hal-hal yang diproblematisasikan.
Agenda utama CDA adalah mengungkap bagaimana kekuasaan, dominasi dan ketidaksetaraan dipraktikkan, direproduksi atau dilawan oleh teks tertulis maupun perbincangan dalam konteks sosial dan politis. Dengan demikian CDA mengambil posisi non-konformis atau melawan arus dominasi dalam kerangka besar untuk melawan ketidakadilan sosial.
Fairclough dan Wodak (Fairclough & Wodak, 1997: 270)  mengidentifikasi karakteristik CDA sebagai berikut:
-          Memberi perhatian pada masalah-masalah sosial;
-          Percaya bahwa relasi kekuasaan bersifat diskursif, atau mengada dalam wacana;
-          Percaya bahwa wacana berperan dalam pembentukan masyarakat dan budaya;
-          Percaya bahwa wacana berperan dalam membangun ideologi;
-          Percaya bahwa wacana bersifat historis;
-          Memediasikan hubungan antara teks dan masyarakat siosial;
-          Bersifat interpretatif dan eksplanatif;
-          Percaya bahwa wacana merupakan suatu bentuk aksi sosial.


Melalui CDA, peneliti berusaha mengungkap motivasi dan politik yang berada di balik argumen-argumen yang membela atau menentang suatu metode, pengetahuan, nilai, atau ajaran tertentu. Melalui upaya-upaya itu CDA berkeinginan untuk membangun informasi dan kesadaran yang lebih baik akan kualitas atau keterbatasan dari masing-masing metode, pengetahuan, nilai, atau ajaran tersebut.

Jumat, 08 November 2013

CERITA SMA

"Putih Abu-abu" begitulah orang seering bilang masa SMA. Masa dimana saya mulai menemukan kehidupan baru, sahabat-sahabat baru, kenakalan-kenakalan baru, dan mulai mencari jati diri. Masa ini adalah masa paling menyenangkan, mulai bandel2nya, seragam mulai dikecilin, main kesana-kemari tak tau waktu, masa dimana punya pacar yang lumayan lucu kisahnya... hahahhaha ...

Ini adalah salah satu kenanganku pas masih SMA : cerita SMA

Minggu, 03 November 2013

SINOPSIS DAN TREATMEN

1.  Pengertian Sinopsis
Pengertian sinopsis menurut Dr. Gorys Keraf adalah ringkasan atau summary atau prĂ©cis yang paling efektif dalam menyajikan suatu karangan yang panjang menjadi bentuk pendek.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sinopsis merupakan ikhtisar karangan ilmiah yang biasanya dimunculkan bersamaan dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis tersebut. Sinopsis secara garis besar adalah abstraksi, ringkasan atau ikhtisar karangan.
Sinopsis adalah Alur cerita yaitu penjelasan bagaimana alur cerita suatu drama film, suatu film yang dijelaskan dalam bentuk tulisan yang jelas sehingga pemain maupun penonton memahami jalannya cerita serta produsen memahami isi dari cerita tersebut.
Dapat juga dijelakan bahwa sinopsis adalah ringkasan cerita dari alur cerita yang panjang yang dapat dijelaskan dengan jelas dari alur cerita tersebut. Adanya sinopsis adalah untuk meningkatkan kemampuan seorang penulis agar lebih baik dan lebih terarah dari alur ceritanya.
Suatu sinopsis yang berkualitas adalah suatu rangkaian ringkasan yang singkat namun mampu menjelaskan cerita secara keseluruhan, sehingga meski hanya singkat, orang akan lebih mudah memahami alur cerita yang sesungguhnya.
Jangan membuat sinopsis yang memutar balikkan cerita karena ini tentu saja akan membuat si pembaca akan merasa bingung dengan jalannya cerita. Suatu cerita dalam film atau drama bila dikemas secara terarah maka drama tersebut akan mudah dinikmati oleh penontonnya. Buat start dan proses yang baik hingga ending cerita yang jelas sehingga penonton tidak dibuat terkatung-katung.
Sinopsis juga merupakan cerita dasar, penilaian terhadap cerita dasar sesuai dengan tujuan produksi, dikaitkan dengan prediksi potensi dana produksi dan potensi penonton sebagai khalayak sasaran. Prediksi dana produksi selain menyangkut jaminan arus dana, yang tidak kalah pentingnya adalah adanya fisibilitas dalam pengembalian modal. Mungkin ada produser yang tidak menuntut pengembalian modal, misalnya pemerintah atau pribadi dan badan yang memiliki program sosiokultural.
Jika didapat penyandang dana semacam ini tentunya akan menjadi berkah bagi produser. Namun demikian tetap perlu dilakukan prediksi potensi penonton. Ini bertolak dari kesesuaian cerita dengan kecenderungan sosiografis dan psikografis khalayak yang akan dituju (target audience). Penilaian ini dilakukan oleh produser yang mengenali khalayak sasarannya atau memiliki misi ideal yang ingin diwujudkannya. Dengan kata lain, suatu cerita dapat dilihat dari sisi kesesuaian dengan motif penonton yang akan dijadikan khalayak sasaran, atau bertolak dengan kesesuaian idealisme kebudayaan dari produser. Sisi manapun yang menjadi dasar bertolak, pilihan cerita tetap menggunakan kriteria enak ditonton.
Sering orang menganggap sinopsis merupakan ringkasan cerita. Ini memang tidak salah, tetapi belum memberikan gambaran yang relevan tentang fungsi suatu sinopsis cerita. Sinopsis suatu cerita bukan sekadar ringkasan cerita. Lantas apa? Sinopsis adalah usulan untuk pengembangan tema. Jadi ada tema tertentu yang dianggap menarik, dan si penulis merasa perlu memperkembangkan sebagai cerita. Untuk itu dia perlu memberi gambaran mengapa tema itu dianggap menarik untuk dikembangkan sebagai cerita. Sebagaimana diketahui, tema adalah pokok pikiran yang akan menjadi sari cerita, dan mengandung pesan moral (sesuai dengan misi penulis).
Dalam menulis sinopsis, penulis perlu memberikan gambaran unsur-unsur dalam ceritanya kelak yang dianggap mengandung nilai dramatik. Karenanya, dalam menulis sinopsis, perlu dirumuskan lebih dulu tema yang mendasari cerita. Selanjutnya tuliskan unsur-unsur yang dianggap dapat melahirkan kejadian-kejadian yang bakal membangun suasana dramatik.

Unsur-unsur yang perlu digambarkan itu adalah:
·         Karakter tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita.
Tokoh-tokoh seperti apakah yang akan bertemu dalam cerita yang akan ditulis? Jika sosok tokoh ini sudah jelas, dapat dituliskan pula:
-          Bagaimanakah motivasi tokoh-tokoh itu?
-          Hambatan-hambatan apakah yang dialami oleh tokoh-tokoh itu dalam memenuhi motivasinya? Apakah sebabnya motivasi itu terhambat?
·         Kejadian-kejadian yang dianggap dramatik dalam interaksi para tokoh dalam cerita. Tentu saja tidak perlu menuliskan kejadian-kejadian secara detail, sebab itu disediakan untuk treatment. Sedang di dalam sinopsis cukup menuliskan kejadian-kejadian pokok saja, untuk meyakinkan bahwa tema itu memang menarik andaikata sudah menjadi cerita kelak.
·         Tempat dan waktu (masa/zaman) cerita berlangsung juga perlu dituliskan dalam sinopsis, agar diperoleh gambaran bagaimana hubungan manusia-manusia yang diceritakan itu dengan tempat dan masa kejadian berlangsung.
Untuk enak ditonton, setiap cerita dituntut memiliki kekuatan dramatik. Suasana dramatik tidak mungkin tertangkap melalui sinopsis atau cerpen. Sinopsis hanya merupakan deskripsi tema yang ingin dijadikan cerita. Begitu pula tangga dramatik suatu cerpen misalnya, biasanya hanya satu kali, menjelang akhir. Tangga dramatik yang bertingkat hanya dapat ditangkap melalui novel. Namun ada perbedaan novel dengan media audio-visual. Perbedaannya pada medium yang digunakan, film menggunakan medium gambar dan suara. Sedangkan cerpen dan novel menggunakan medium teks.
Karenanya setiap produser hanya dapat membahas prediksi bagi bakal produksinya jika sudah ada kejelasan cerita melalui treatment dan skenario. Melalui treatment dapat diketahui suasana dan tangga dramatik cerita, sementara dari skenario dapat diprediksi biaya dan waktu yang diperlukan untuk berproduksi.
Kalau film yang akan digarap berdasarkan dari gagasan yang dimulai dengan penentuan tema, maka Sinopsis merupakan pengembangan dari Dasar Cerita. Sinopsis kurang lebih adalah ringkasan cerita yang berisi:
1.      Garis besar jalan cerita.
Meski cerita diuraikan secara ringkas, namun harus memperlihatkan alur cerita yang jelas.
2.      Tokoh protagonis
Tokoh protagonis harus dijelaskan siapakah dia? Apa keinginannya? Apa kejelekannya? Kelebihannya? Bagaimana membuat simpati padanya?
3.      Tokoh antagonis.
Tokoh Antagonis harus dijelaskan siapa dia? Kenapa dia harus menghambat tokoh protagonis? Apa alasannya? Apa kemampuannya untuk membuat penonton antipati?
4.      Tokoh penting yang menunjang plot utama/jalan cerita utama.
Tokoh-tokoh yang penting untuk menunjang plot utama atau alur utama. Teman Protagonis atau Antagonis. Penggambaran tokoh ini sudah harus jelas ketika tokoh ini membuat bagian penting dalam bergulirnya sebuah cerita.
5.      Problem Utama
Harus terlihat problem utama yang melahirkan alur utama cerita. Problem utama itulah yang membuat sasaran perjuangan protagonis sampai akhir.
6.      Motif utama.
Penilaian atas motif utama sejalan dengan problem utama, yakni apakah motif utama mendorong protagonis melahirkan cerita memang sesuai dengan problem utama yang melahirkannya.
7.      Klimaks dan Penyelesaian
Pencapaian klimaks merupakan hal yang amat penting untuk dinilai karena klimaks adalah puncak dari tangga dramatik. Jika diandaikan klimaks harus berada tepi tebing yang curam dan sangat berbahaya. Alur cerita harus membawa protagonis ke arah tebing yang berbahaya!
8.      Kesimpulan
Apa yang ingin disampaikan dalam cerita harus bisa disimpulkan dalam sinopsis. Jika dalam sinopsis belum bisa disimpulkan maka perlu ada tambahan informasi yang jelas.

Syarat-syarat Penyusunan Sinopsis
Dalam mempersiapkan sinopsis, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut. 
Pertama, penulis sinopsis harus sudah selesai membaca atau menyimak karya yang akan dibuat sinopsisnya. Pastikan sudah memahami betul inti cerita dan alurmya. 
Kedua, dalam menulis sinopsis jangan lupakan unsur-unsur intrinsik yang terkandung di dalam karya.
Masih ingat dengan kelima unsur instrinsik cerita?
1.      Tema.
Inti yang menjadi dasar cerita. Dalam sinopsis, unsur ini bisa dihadirkan di awal atau di akhir dengan mengutip tulisan dalam karya tersebut.
2.      Alur.
Nama lainnya adalah plot, merupakan urutan jalannya cerita yang terlihat menyatu dan terdapat hubungan sebab-akibat di dalamnya. Alur memiliki tingkatan, yaitu tahap perkenalan masalah, penanjakkan laku, klimaks, anti klimaks, dan penyelesaian masalah. Dalam sebuah sinopsis, alur menjadi bagian paling penting yang tidak boleh dihilangkan karena mampu memperjelas jalannya cerita secara keseluruhan. 
3.      Penokohan.
Pencitraan tokoh atau karakter dalam cerita. Sinopsis memunculkan sang tokoh sentral dan beberapa karakter pendukung lebih fokus agar pembaca tertarik untuk melanjutkan menyelami karya tersebut.
4.      Latar.
Dalam bahasa film dikenal dengan setting, merupakan penanda waktu, suasana, tempat dan korelasi semuanya dengan cerita. Sinopsis sedikit banyak turut menyelipkan unsur ini.
5.      Point of view atau sudut pandang tokoh adalah cara penulis menyebutkan tokoh. Terdapat beberapa sudut pandang yang biasa dipakai, yaitu orang pertama tunggal 'aku', orang ketiga tunggal 'dia' sebagai Yang Maha Tahu dan campuran 'ku' dan 'dia'. Dalam sinopsis, yang dipakai biasanya adalah sudut pandang 'dia'.
Ketiga, sinopsis harus dibuat sejujur-jujurnya, sesuai isi ceritanya atau berdasarkan fakta karyanya. Kalau pun ingin menambah pendapat sendiri, usahakan tidak menggunakan bahasa yang menyinggung, mengkritik dengan pedas, dan keluar dari cerita.
Keempat, perlu diingat, sinopsis tentu sangat berbeda dengan resensi. Sinopsis dibuat sesuai karya aslinya dengan cara membuat précis yaitu kesimpulan atau ringkasan. Sedangkan resensi dibuat mirip sinopsis dengan menambahkan pendapat penulis resensi mengenai kekurangan dan kelebihan isi buku atau film. Prinsip resensi adalah untuk mengulas lebih dalam suatu karya.
Kelima, sinopsis langsung dibuat tanpa perlu diawali dengan: "Menurut penulis..." atau "Berdasarkan pengamatan penulis...".
Keenam, berlatihlah menulis sinopsis dengan mulai membaca buku lalu membuat ringkasannya. Pelajari pula contoh-contoh sinopsis yang sering ada di cover belakang buku. Atau menonton film kemudian menceritakannya kembali dan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan singkat.

Metode Membaca
Dalam proses pembuatan sinopsis diperlukan tahap membaca dengan saksama agar tulisan yang kita buat sesuai dengan fakta cerita pendek atau novel. Membaca memiliki tujuan. Tujuan utama di sini adalah untuk mendapatkan intisari cerita berbentuk sinopsis.
Tujuan membaca secara garis besar adalah untuk memperoleh informasi dari suatu bacaan, memperoleh kesenangan atau hiburan, mengetahui apa yang sedang terjadi atau sedang tren melalui membaca koran dan buku fiksi atau non fiksi, membandingkan satu karya dengan karya lain, memperoleh kenikmatan emosi, mendapatkan pemahaman, dan mengisi waktu luang.
Teknik membaca cepat memiliki beberapa pendekatan, yaitu sebagai berikut.
a.       Survey, melihat sekilas isi buku seperti cover buku, judul buku, lalu membuka cepat halaman demi halaman untuk melihat sub bab dan bagian-bagian penting isi buku. 
b.      Question, sambil melakukan survey, Anda bisa sekaligus melakukan analisa terhadap isi buku seperti melontarkan pertanyaan,"mengapa begini" dan "apa saja yang mendasari hal tersebut".
c.       Read, mulailah membaca secara keseluruhan dengan jeda di setiap bab yang selesai dibaca. Jeda ini dilakukan untuk memperoleh intisari bacaan.
d.      Refleksi, tahap ini dilakukan dengan menceritakan kembali ide-ide utama dalam satu bab tersebut, tentu saja dengan gaya bahaya sendiri. Tahap refleksi bertujuan untuk memahami isi bacaan bukan sekadar tahu dan ingat sesaat.
e.       Review, ini adalah tahap dimana Anda me-recall apa yang sudah Anda baca dengan melakukan survei kembali, yaitu melihat sekilas bagian-bagian terpenting dalam satu bab dan bab-bab berikutnya. Review dilakukan untuk memahami isi buku secara keseluruhan, bukan hanya per bab.

Langkah-langkah Penyusunan Sinopsis
Sinopsis yang hanya terdiri dari seperlima bagian dari keseluruhan isi buku atau film dapat disusun berdasarkan tahapan berikut.
·         Bacalah buku sambil menggarisbawahi ide pokok. Setelah didapat ide pokoknya, lalu pindahkan ke dalam catatan dan mulailah kembangkan sendiri ide pokok dengan gaya bahasa sendiri.
·         Bacalah buku per bab secara berulang-ulang.
·         Buatlah sinopsis sederhana dengan menggunakan kalimat tunggal atau sederhana. Bila memungkinkan, gunakan kalimat majemuk yang lebih kompleks agar bisa didapat intisari dalam satu pemahaman.
·         Bila ada kalimat yang terlalu kompleks, sederhanakanlah agar sinopsis bisa menjadikannya lebih mudah untuk dipahami. Bila kalimat tersebut dirasa tidak bisa disederhanakan lagi, maka ambillah agar sesuai dengan keaslian isi buku.
·         Tokoh sentral dalam karya tersebut disebut sebanyak beberapa kali dengan mempertimbangkan fungsinya bersama dengan tokoh pendukung hingga menjadi satu kesatuan ide cerita yang menarik. Ingat sinopsis adalah karya tersebut dalam bentuk ringkasan.
·         Sinopsis film dapat dibuat dengan mengandalkan audio visual kita. Perhatikan alur cerita, tokoh-tokohnya dan detil-detil film. Bisa jadi hal-hal simpel dalam adegan suatu film menjadi hal terpenting atau kunci cerita. Foreshadowing adalah istilah yang digunakan untuk menyebut detail dalam film dari hal kecil tersebut.

2.   Tujuan Sinopsis
Sinopsis memiliki arti penting dalam pembuatan skenario, yaitu sebagai pijakan. Kita akan kesulitan membuat skenario apabila kita tidak tahu sinopsis ceritanya. Akan sama sulitnya kita akan membuat sinopsis apabila tidak mempunyai ide cerita.
Apabila  kita membuat film bukan film lepas (FTV/layar lebar), melainkan sinetron, maka selain menyiapkan sinopsis global, kita juga harus menyiapkan sinopsis per episode yang tentu saja lebih detail dibanding dengan sinopsis global.
Tujuan utama sinopsis adalah memudahkan pemesan (produsen) menangkap konsep, mempertimbangkan kesesuaian gagasan dengan tujuan yang ingin dicapai dan menentukan persetujuannya. Setelah sinopsis ditulis maka sudah harus nampak adanya: alur, isi cerita, perwatakan pemain, tempat, waktu, serta keterangan lain yang memperjelas sinopsis.
Tujuan lain dibuatnya sinopsis adalah untuk memberikan informasi terpenting dari sebuah karya kepada pembaca atau penikmatnya dalam format yang lebih singkat sehingga mereka dapat dengan mudah mengetahui intisari cerita. Sinopsis hanya dibuat sebanyak satu sampai tiga halaman.

3.  Pengertian Treatmen
Treatment adalah pengembangan jalan cerita dari sebuah sinopsis yang di dalamnya berisi plot secara detail namun cukup padat. Treatment bisa diartikan sebagai kerangka skenario yang tugasnya adalah membuat sketsa dari penataan konstruksi dramatik. Dalam bentuk sketsa ini kita akan mudah memindah-mindahkan letak urutan peristiwa agar benar-benar tepat.
Treatment merupakan deskripsi setiap adegan untuk menampilkan alur cerita atau uraian ringkas secara deskriptif, bukan tematis yang dikembangkan dari sinopsis, melainkan dengan bahasa visual tentang suatu episode cerita, atau ringkasan dari rangkaian suatu peristiwa. Artinya dalam membuat treatment bahasa yang digunakan adalah bahasa visual. Sehingga apa yang dibaca dapat memberikan gambaran mengenai apa yang akan dilihat. Dengan membaca treatment bentuk program yang akan dibuat sudah dapat dibayangkan.
Treatmen perlu dibuat, walaupun cerita berasal dari novel yang sudah terbentuk plot dan alur ceritanya. Dengan adanya treatment, analisis dapat dilakukan lebih tajam dan efisien. Pertimbangannya dilakukan melalui urutan adegan yang terdapat dalam naskah treatment, dapat berfungsi untuk:
a.       Menilai hubungan logis rangkaian adegan dalam alur cerita
b.      Menilai potensi tangga dramatik dari urutan adegan dalam alur cerita.
c.       Bahan utama menyusun skenario (Adegan adalah satuan peristiwa yang memuat motif dan tindakan manusia baik sendiri maupun dalam berinteraksi dengan manusia lain).
Dengan kata lain, treatment akan mendeskripsikan kejadian dalam susunan logis sesuai dengan urutan cerita. Melalui treatment dapat diikuti kejadian kejadian yang berlangsung, sehingga dapat diketahui plot cerita. Dari sinopsis yang sudah memberikan gambaran mengenai unsur-unsur yang terkandung dalam cerita kelak, penulis mengembangkan kejadian-kejadian untuk mewujudkan cerita yang sudah memiliki struktur.
Dalam suatu treatment tidak perlu dituliskan percakapan tokoh. Kecuali jika penulis menganggap ada percakapan kunci yang sedemikian pentingnya, kalau tidak dicantumkan orang tidak bisa menangkap plot cerita misalnya, barulah perlu menuliskan dialog atau monolog tokoh-tokoh. Tetapi kalau masih bisa dihindari, lebih baik tidak menuliskan dialog, agar bisa berkonsentrasi memikirkan kejadian-kejadian melalui tindakan tokoh-tokoh cerita.
Dengan menguraikan secara berurutan tindakan-tindakan penting, untuk memperoleh gambaran mengenai kejadian yang dramatik. Jika penulis dapat mengimajinasikan tindakan-tindakan yang dapat ditangkap secara visual, maka pengwujudan dalam media televisi dan film kelak akan lebih gampang.
Sehingga perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a.       Urutan dalam video sudah makin jelas
b.      Sudah kelihatan formatnya apakah dialog (bagaimana pokok dialognya) atau narasi (bagaimana pokok narasinya),
c.       Sudah dimulai adanya petunjuk-petunjuk teknis yang diperlukan.
Treatmen juga merupakan pembabakan. Sebuah film umumnya terdapat tiga babak. Sinopsis itu harus dipecah ke dalam tiga babak ini.
-          Babak pertama sebagai pengenalan setting, tokoh, dan awal masalahnya.
-          Babak kedua sebagai bagian berkecamuknya masalah.
-          Babak ketiga sebagai penyelesaiannya.
Yang tiga babak ini disebut dengan struktur tiga babak (tree acts structure). Ada juga yang disebut struktur sembilan babak (nine acts structure), sebagai pengembangan dari yang tiga babak. Yang sembilan babak ini terdiri dari:
-          Babak 1: kejadian buruk menimpa orang lain.
-          Babak 2: pengenalan tokoh utama (protagonis).
-          Babak 3: kejadian buruk menimpa protagonis, atau terlibat/dilibatkan kepada masalah orang lain pada babak 1.
-          Babak 4: protagonis dan antagonis
-          Babab 5: protagonis berusaha keluar dari masalah
-          Babak 6: protagonis salah mengambil jalan
-          Babak 7: protagonis mendapat pertolongan
-          Babak 8: protagonis berusaha keluar dari masalah lagi
-          Babak 9: protagonis dan antagonis berperang, menyelesaikan masalahnya.
Naskah yang disebut treatment ini lebih berkembang daripada step-outline. Sudah lengkap dengan action pokok pelaku. Boleh dikatakan treatmen adalah kerangka lengkap skenario. Hanya tinggal menambah pemanis disana-sini dan dialog, maka sudah menjadi skenario.
Pada penulisan treatment harus pakai nomor. Yakni nomor kelompok adegan atau adegan-adegan disuatu tempat. Maka itu tiap nomor disertakan keterangan tempat maupun waktu. Uraian treatment berisi:
1.      Menggambarkan “kerangka skenario” lengkap tapi padat.
2.      Penuturan sudah mengacu pada urutan Tiga babak dan penataan dramatik.
3.      Uraiannya harus ringkas, komunikatif dan efektif, supaya tidak terlalu tebal.
4.      Nama orang dan tempat sudah fix, sebagaimana yang akan tampil dalam skenario.
Dengan pembuatan treatment, kita sudah bisa melakukan pemendekan atau pengembangan uraian sesuai dengan tuntutan cerita dan tuntutan penataan dramatik. Karena dengan dialognya yang panjang lebar dan sudah susah payah kita ciptakan, sulit melakukan perubahan dan juga kita merasa enggan.
Pada saat menulis treatment kita dengan leluasa merencanakan aksi pelaku yang membuat adegan menjadi betul-betul hidup, realistik dan menunjang kebutuhan cerita/dramatik.
Treatment pada dasarnya merupakan urutan isi/materi program yang akan  disajikan episode demi episode secara ringkas. Bahasa yang dipakai dalam  treatment sudah merupakan bahasa visual sehingga orang yang membacanya  akan dapat merasakan alur sajian seperti kita lihat pada monitor/layar.

4.           Tujuan Treatmen

Dari sebuah treatmen orang bisa membayangkan apa saja yang akan terlihat di layar. Dengan kata lain treatmen adalah sebuah uraian mengenai segala urutan kejadian yang akan tampak di layar televisi/video. Uraian tersebut bersifat naratif tanpa menggunakan istilah teknis, seperti ketika seseorang menceritakan kembali pertunjukan yang baru saja dinikmati. Bila sudah berhasil menyusun treatmen maka dapat dikatakan bahwa pekerjaaan dalam menyususun skenario sudah setengah jalan.

LOGIKA DAN ALGORITMA KOMPUTER (SIMULASI DAN KOMUNIKASI DIGITAL)

PERTEMUAN KEDUA SIMULASI DAN KOMUNIKASI DIGITAL  SMKN 1 CARIU Tahun Ajaran 2020/2021 "LOGIKA DAN ALGORITMA KOMPUTER...