Disaat kita mulai kuliah pasti kita pernah merasa "udah gede tapi masih nyusahin orang tua".. itu adalah hal yang saat itu aku rasakan. Aku pun berpikir gimana nih caranya biar dapat uang tanpa harus meminta kepada orang tua tapi sedang kuliah. Akhirnya aku dan temen-temenku yang kebetulan sepemikiran denganku akhirnya mencari kerja part time, mulai dari toko-toko sampai ke mall-mall yang ada di sekitar Depok.
Pada tahun pertama kita ga pernah ada panggilan kerja. akhirnya kita memutuskan kembali untuk mencari kerja dengan menaruh lamaran ke tempat-tempat yang memang membutuhkan mahasiswa sebagai pekerjanya,
Yang pertama adalah tempat bimbel. Walaupun ga terlalu Genius tapi alhamdulillah bisa menguasai materi-materi anak sekolahan, asal bisa menyampaikan dengan baik kepada murid-muridnya, insyaallah mereka akan mengerti apa yang disampaikan. Alhamdulillah anak-anak senang padaku, bahkan sebagian murid memfavoritkanku dan untuk gajinya, lumayan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari di kostan. Kita juga dapat pengalaman bagaimana caranya menghadapi anak-anak yang bandel, berisik, dan susah diatur..
Selanjutnya Aku mencoba mencari pekerjaan part time ke dua, untuk Sabtu dan Minggu, ma hari-hari libur yaitu ke tempat makan. Salah satunya adalah Pizza Hut Margo City, alhamdulillah keterima dengan test terlebih dahulu. Walaupun jadwal masuknya jarang-jarang karena menyesuaikan jadwal kuliahku tapi gajinya lumayan buat nambah-nambah gaji ngajarku.
Pekerjaan ketiga adalah ikutaan lomba-lomba dan ikutan penelitian-penelitian antar Perguruan Tinggi. Lumayan kalau menang bisa dapat hadiah dan juga menambah prestasi kita.. Alhamdulillah aku dan kelompokku bisa lolos PKM-Penelitian.
So... banyak pekerjaan yang dapat digeluti oleh Mahasiswa. Jangan takut untuk berusaha.!!!!
Minggu, 09 Februari 2014
Rabu, 29 Januari 2014
Target Pertama
Ketika mendengar pengumuman PKM lolos, rasanya bahagia banget, ga nyangka juga bisa lolos...
Itu merupakan salah satu pencapaianku di tahun 2014..Aku bersama temanku Sifa Fauziah, Sitty Nuranna, Chumaira, mencoba untuk mengajukan proposal PKM penelitian dan mulai mengerjakan proposal dengan waktu yang sangat mendesak yaitu sejak tanggal 23 Oktober 2013 sampai di revisi sama pihak Universitas pada 26 Oktober 2013, Selanjutnya kami mengumpulkan Proposal dan mengupload ke Dikti Pada 29 Oktober 2013....
Banyak perjuangan dalam menyusun proposal ini, mulai dari meminta tanda tangan dari dosen pembimbing, pimpinan kemahasiswaan, sampai hujan-hujanan, izin kuliah...
Tapi semua itu terbayar sudah... Pada 29 Januari 2014, kelompokku akhirnya lolos PKM Penelitian...!!!!
Terima kasih Sifa Fauziah, Sitty Nuranna yang udah bantu wujudin keinginanku buat ikutan PKM...
Rabu, 08 Januari 2014
IKLAN
1.
Definisi Iklan
Periklanan merupakan alat utama yang digunakan oleh
perusahaan atau produsen untuk mengarahkan komunikasi yang meyakinkan kepada
sasaran pembeli dan publik. Periklanan adalah komunikasi yang tidak dilakukan
secara langsung antar individu dengan sejumlah biaya dengan berbagai media yang
dilakukan oleh perusahaan, lembaga yang tidak mencari keuntungan, serta
individu-individu (Setiyowati, 2008).
Iklan
dapat berupa lisan ataupun visual yang ditujukan kepada individu atau
masyarakat. Isinya dapat berupa pemberitahuan mengenai suatu produk, jasa
ataupun ide-ide (Setiyowati, 2008).
Kehadiran
iklan tidak hanya diperlukan oleh perusahaan semata-mata, tetapi juga oleh
masyarakat luas. Artinya dengan adanya iklan maka masyarakat jadi tahu akan
kelebihan dan keuntungan yang akan diperoleh daripada barang atau jasa yang dianjurkan
tersebut. Kemudian dengan adanya iklan pula, masyarakat jadi mudah mencari
dimana tempat untuk mendapatkan barang atau jasa, sesuai dengan yang diinginkannya.
Mengenai
pengertian iklan sendiri, banyak para ahli yang telah menyumbangkan pemikiran,
seperti C.H. Sandage dalam bukunya Advertising Theori and practice yang
mengatakan, bahwa iklan adalah : “The dissemination of information,
concerningidea, service or product to compel action in accordance with
the intent of the advertiser, (Iklan adalah penyebaran informasi berupa
ide, pelayanan atau produk untuk menimbulkan kegiatan sesuai dengan yang
diinginkan oleh si pemasang iklan )“ (Danan Djaja, 1985:110). Disini jelas
dikatakan, bahwa iklan merupakan penyebar informasi yang tidak hanya sekedar
untuk memberitahukan sesuatu, tetapi juga sekaligus untuk menimbulkan kegiatan
dari masyarakat sesuai dengan yang dianjurkan. Kemudian William Spriegel
memberikan pedoman tentang pengertian iklan, seperti berikut: “kegiatan
periklanan mengandung unsur penyewaan ruangan atau waktu dalam suatu media
massa demi penggunaannya, serta penyajian yang non-pribadi (artinya bukan oleh
seseorang secara berhadapan)”. (Phil Astrid S. Susanto, 1997:200).
Dari
pendapat William Spriegel ini menunjukkan bahwa penyajian suatu iklan tidak
dilakukan secara berhadapan langsung antara penjual dengan pembeli tetapi
melalui suatu media. Oleh karena itu, periklanan mungkin lebih lama memberikan reaksi
positif, akan tetapi mencari jaminan dalam jangka panjang.
Dari
penjelasan-penjelasan tersebut di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa pengertian
iklan adalah :
a.
Tindakan
atau usaha memperkenalkan hasil produksi melalui gambar, kata-kata slogan atau
simbol dari pada hasil produk tersebut melalui komunikasi langsung yang
ditujukan kepada khalayak ramai agar dibeli dan menimbulkan minat masyarakat
untuk membeli dan memilikinya.
b.
Usaha
peningkatan penjualan hasil produk melalui media komunikasi massa supaya
dikenal secara cepat dan tersebar di pasar.
c.
Sarana
informasi bagi masyarakat dalam menentukan dan menumbuhkan minat, sikap serta
tindakan.
d.
Salah
satu sarana penghidupan bagi media massa dan surat kabar pada khususnya.
2.
Perkembangan Iklan
Periklanan
dalam arti modern, merupakan usaha untuk memberi informasi tentang suatu produk
atau jasa kepada khalayak dan merupakan suatu gejala masyarakat yang maju.
Gejala ini boleh dikatakan khas, mengingat bahwa barang atau jasa tidak dijual
bersamaan dengan pemberian informasi, serta pemberian informasi terjadi pada
umumnya melalui media massa. Karena itu syarat utama bagi apa yang kini disebut
periklanan ialah adanya media, terutama media massa.
Walaupun
surat kabar yang dikenal sebagai surat kabar pertama seperti Nathaniel Butter’s
Weekly News sudah dikenal dalam tahun 1622 di Inggris, namun ternyata bahwa
surat kabar itu belum memuat iklan. Yang dikenal di Inggris sebagai pembawa iklan
yang pertama, ialah Mercurius Eritannius.
Di
Inggris kemudian dikenal suatu surat kabar yang mengkhususkan diri dalam periklanan
pada tahun 1682, yaitu “A collection for the Improvement of Husbandry and
Trade”, sehingga terbitan bukan saja membawa berita jual-jual produk
pertanian dan perdagangan pada umumnya, tetapi juga sudah membawa iklan tentang
“lowongan kerja” dan “mencari pekerjaan”, seperti juga “berita benda yang
hilang” dan “berita ditemukan”. Surat kabar yang diterbitkan oleh Jhon Houghton
ini, akhirnya juga memuat berita pernikahan dan pencaharian jodoh, juga seperti
ulasan buku serta berita dimana dapat membelinya. Dalam abad ke-18 dan ke-19 di
dalam dunia persurat kabaran Inggris terjadi satu kemunduran di bidang kegiatan
periklanan, karena surat kabar memperoleh status yang lebih tinggi, sehingga
Henry Colburn penerbit dari surat kabar berbobot elit Anhenaum and Frazer’s
menghindari iklan berbau “picisan”. Akibat daripadanya ialah bahwa dalam
periode ini iklan mini (classifiedads) berkembang, yang akhirnya dapat
menghasilkan 9.000 poundstarling.
Lambat
laun pasaran massa sebagaimana dikenal sekarang, makin berkembang terutama
dalam abad ke-19 dengan menggunakan berbagai tricks seperti penggunaan
lagu-lagu populer atau pepatah yang mudah mengingatkan seseorang akan suatu
produk tertentu, menggunakan pengulangan serta pendekatan tehnik erudisi dengan
menggunakan tehnik pseudo ilmiah demi “peningkatan status sosial“ kepada
pemakai satu produk. Namun tidak semua pedagang kaya menganggap bahwa surat
kabar sebagai satu-satunya media yang dapat menghubungkan dirinya (produk atau
jasanya) dengan khalayak sasaran, sehingga mulai penggunaan tehnik penggunaan
papan tempel (billboards) serta penggunaan iklan pada kendaraan – kendaraan
yang membawa produknya, sehingga pemerintah kotamadya London dalam tahun 1839
sudah mengeluarkan apa yang dikenal sebagai metropolitan Police Act, 1839 yaitu
yang mewajibkan izin penempelan poster atau pemasangan papan tempel di
tempat-tempat umum, di samping izin rekomendasi dari polisi setempat. Dalam
suasana ini kegiatan periklanan memperoleh citra negatif dan terutama dikenal
sebagai “ kasar dan tidak benar “, sehingga perusahaan-perusahaan besar
akhirnya kembali dengan hanya mencantumkan pada papan tempel sekedar nama
perusahaan dan produknya untuk mengingatkan khalayak. (Phil Astrid S. Susanto,
1997:188).
Langkah
kemajuan berikut dalam periklanan terutama melalui pers dilakukan oleh Thomas
J. Bart dari Pears Soap Co, yang untuk pertama kalinya menggunakan artis-artis
yang terkenal sebagai pembawa iklannya. Demikian pula kemajuan dalam bidang
Lithography yang diperkenalkan dari Perancis, akhirnya mengakibatkan penggunaan
pengaruh artis-artis untuk iklan. Dalam abad ke-19 terutama cara pencetakan
iklan dalam cara Toulouse Lautrec dari Moulin Rouge sangat menonjol dan hingga
kini kadang-kadang masih dipakai.
Namun
baru sejak akhir abad ke- 19 yaitu dalam tahun 1880 Lord Northcliffe sendiri,
yang mengubah citra dari iklan karena mengaitkannya dengan eksistensi surat
kabar. Sejak itu pendapat, bahwa suatu surat kabar hanya dapat bertahan dalam
eksistensinya apabilala 50% dari kertas yang dipergunakan ditunjang oleh iklan,
menjadi populer. Sehingga lahirlah apa yang dikenal sebagai Display
Advertisements atau iklan berukuran besar dalam surat kabar. Hal ini
dimungkinkan karena pada akhir abad ke-19 sistem distributor untuk penjualan produk
makin berkembang, yaitu berkembangnya sistem penjual eceran.
3.
Jenis-jenis Iklan
Jika
seseorang berhadapan dengan surat kabar, majalah, radio dan televisi, seketika
melihat adanya pesan yang menawarkan mengenai keunikan suatu barang
atau melayani suatu jasa, maka kita mengatakan
itu iklan. Iklan juga ada di papan-papan reklame di perempatan ramai dengan
lampu berwarna-warni, ditempelkan di dinding bis-bis kota, atau dibagikan
pedagang asongan waktu menunggu lampu hijau dalam kendaraan untuk bergerak maju.
Iklan
terdiri atas dua jenis : pertama iklan standar, dan kedua iklan layanan masyarakat.
Jika kemudian terdapat jenis-jenis yang lain, maka itu merupakan perluasan dari
kehadiran kedua jenis iklan tersebut, demikian dinyatakan oleh Bitter dalam
bukunya Mass Communication, an introduction. (Alo Liliweri, 1992: 31).
Iklan
standar, adalah iklan yang ditata secara khusus untuk keperluan memperkenalkan
barang, jasa pelayanan untuk konsumen melalui sebuah media massa. Tujuan iklan
standar, adalah merangsang motif serta minat para pembeli atau para pemakai.
Karena akibat iklan telah merangsang pembeli melalui daya tariknya yang besar,
maka iklan menggugah minat, perasaan konsumen dan mengambil sikap terhadap
barang atau jasa yang ditawarkan tersebut. Sebagian besar iklan standar pesan-pesannya
ditata secara profesional oleh lembaga periklanan. Kehadiran lembaga seperti
ini, sangat dibutuhkan oleh para pemasang iklan yaitu mereka yang mempunyai
barang, jasa, ide serta gagasan yang ingin ditawarkannya itu.
Pesan-pesan
iklan ini disusun secara mantap baik dalam kata, kalimat, memilih gambar dan
warna, tempat pemasangan atau media yang cocok, menjangkau jenis khalayak
sasaran tertentu, menyebarkannya pada waktu yang pas yang seluruhnya berada
dalam penanganan orang-orang profesional.
Jenis
iklan layanan masyarakat adalah iklan yang bersifat nonprofit, jadi iklan ini
tidak mencari keuntungan akibat pemasangannya kepada khalayak. Hal ini berbeda dengan
iklan standar, yang mengharapkan dari pemasangan iklannya menggaet keuntungan
atas penjualan barang produksinya. Umumnya iklan layanan masyarakat, bertujuan
memberikan informasi dalam rangka pelayanan dengan mengajak masyarakat untuk
berpartisipasi, bersikap positif terhadap pesan yang disampaikan.
Dan
iklan layanan masyarakat tidak terlalu terikat pada penetapan yang ketat, perancangan
pesan yang rumit, pemilihan media yang sesuai, sampai pada penentuan khalayak
sasaran serta pemilihan tempat dan juga waktu yang benar-benar pas.
Untuk
selanjutnya iklan secara umum dapat dibagi atas :
a. Iklan Tanggung Jawab Sosial
Adalah
iklan yang bertujuan untuk menyebarkan pesan – pesan yang bersifat informatif,
penerangan, dan pendidikan agar membentuk sikap warga masyarakat sehingga
mereka bertanggung jawab terhadap masalah sosial juga kemasyarakatan tertentu.
Tanggung-jawab ini merupakan bagian dari kewajiban masyarakat secara moral
maupun material yang ditunjukkannya dalam aktivitas sosial.
b. Iklan Bantahan
Iklan
ini diajukan melalui media massa untuk membantah dan memperbaiki citra suatu
produk, yang namanya sudah tercemar di kalangan masyarakat akibat suatu informasi
yang tidak benar. Perusahaan yang memproduksi produk itu dapat mengajukan iklan
melalui kuasa hukum/pengacara untuk membantah ketidak benaran informasi
tersebut.
c. Iklan Pembelaan
Iklan
ini mirip sebenarnya dengan iklan bantahan, namun iklan pembelaan merupakan
iklan yang diajukan untuk membela keberadaan suatu barang, jasa, ide atau
gagasan tertentu dari pengajuan atau klaim dari pihak yang lain terhadap suatu
produk tertentu, terutama sekali pembelaan ini terhadap hak paten.
d. Iklan Perbaikan
Iklan
perbaikan adalah iklan yang memperbaiki pesan-pesan tentang suatu produk tertentu
yang terlanjur salah dan disebarluaskan melalui media massa. Jenis iklan
seperti ini terlihat misalnya dalam iklan untuk memperbaiki isi iklan yang sama
tentang suatu produk pada edisi terbitnya suatu media beberapa waktu sebelumnya.
e. Iklan Keluarga
Iklan
keluarga adalah iklan yang pesan-pesannya merupakan pemberitahuan tentang terjadinya
suatu peristiwa kekeluargaan kepada keluarga/khalayak lainnya. Sebagai contoh,
iklan perkawinan, iklan ucapan selamat hari raya, iklan ucapan selamat sukses,
iklan kematian atau turut berduka cita dan sebagainya.
Sementara itu Bovee membuat pembagian iklan
yang lebih spesifik, yaitu:
a. Iklan berdasarkan khalayak sasaran
psikografis.
Berdasarkan
khalayak sasarannya, iklan dapat dibagi atas iklan untuk konsumen dan iklan
untuk bisnis.
b. Iklan berdasarkan khalayak sasaran
geografis.
Jenis
iklan ini diarahkan untuk menjangkau khalayak dalam suatu wilayah tertentu. Berdasarkan
itu, iklan dibagi atas iklan internasional, iklan nasional, iklan regional dan
iklan lokal.
c. Iklan berdasarkan penggunaan media.
Penyebarluasan
iklan harus melalui media yang dipilih secara khas sesuai dengan keputusan
pengiklannya. Pilihan terhadap media yang digunakan sebagai penyebar iklan
dapat dilakukan melalui media cetak dan media elektronik.
d. Iklan berdasarkan fungsi dan tujuan.
Setiap
iklan mempunyai fungsi tertentu serta mempunyai tujuan tertentu pula. Jenis
iklan ini terbagi atas iklan tentang produk-produk, iklan komersial bukan komersial,
serta iklan berdampak langsung bukan langsung.
4.
Macam-macam iklan
a. IKLAN TAKTIS
Iklan yang
memberikan penawaran spesial seperti discount serta bersifat jangka pendek yang
membuat para pembeli akan segera membeli produk tersebut.
b. IKLAN LAYANAN
MASYARAKAT
Iklan Layanan Masyarakat atau Public Service
Advertising merupakan iklan yang mengajak masyarakat untuk melakukan suatu
tindakan untuk merubah perilaku menjadi lebih baik.
c. IKLAN
COMMERCIAL
Iklan comercial merupakan iklan untuk mempromosikan
suatu produk ataupun jasa agar orang yang melihat tertarik dengan produk atau
jasa yang ditawarkan.
5.
Fungsi dan Tujuan
Iklan
Menurut Alo Liliweri (1998) yang
dikutip dari beberapa sumber seperti Wright (1978), S.W. Dunn (1978) dan Bover
(1976) dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Fungsi Pemasaran
Adalah fungsi untuk menjual informasi
tentang barang, jasa maupun gagasan melalui media sebagai upaya:
¨
Mengidentifikasi
produk dan menjelaskan perbedaannya dengan produk lain.
¨
Menganjurkan
penggunaan produk baru secara bertahap.
¨
Menunjang
penyebaran untuk peningkatan penggunaan produk.
¨
Membangun rasa
cinta dan dekat pada produk untuk mengikat konsumen dalam jangka waktu yang
lama.
b.
Fungsi Komunikasi
Adalah upaya penerangan dan informasi
tentang produk, memberi pesan yang berbau pendidikan, menciptakan pesan yang
bersifat menghibur dan mempengaruhi khalayak untuk dekat dan selalu membeli dan
memakai produk secara bertahap.
c.
Fungsi Pendidikan.
Melalui iklan orang dapat belajar sesuatu
dari yang dibacanya, ditonton maupun didengar. Khalayak dapat mengkonsumsi
produk yang sesuai untuk merek dan merek dapat memperbaiki gaya hidup menjadi
lebih baik.
d.
Fungsi Ekonomi.
Keuntungan ekonomis yang diperoleh
khalayak melalui iklan adalah mereka lebih mudah mengakses produk yang
dibutuhkan yang bisa menjadi khalayak efisien dari segi biaya.
e.
Fungsi Sosial.
Dalam fungsi sosial iklan membantu
menggerakkan perilaku khalayak untuk lebih baik.
Tujuan Iklan
Dengan adanya
promosi periklanan, maka diharapkan akan terjadi perdagangan. Dengan adanya
iklan ini jugalah penjualan dan pembelian suatu produk akan meningkat.
Menurut Setiyowati
(2008), tujuan dari periklanan adalah:
1. Mendukung program personal selling dan kegiatan promosi lain
2. Mencapai orang-orang yang tidak dapat dicapai oleh tenaga penjualan
ataupun salesman dalam jangka waktu tertentu
3. Mengadakan hubungan dengan para penyalur, misal dengan mencantumkan
nama dan alamatnya
4. Memasuki daerah pemasaran baru atau menarik pelanggan baru
5. Memperkenalkan produk baru
6. Menambah penjualan industri
7. Mencegah timbulnya barang-barang tiruan
8. Memperbaiki
reputasi perusahaan dengan memberikan pelayanan umum melalui periklanan.
Pada
umumnya periklanan menpunyai tiga tujuan utama (3R) yaitu :
a)
Retain : mempertahankan pelanggan ‘loyal’, mengimbau pelanggan yang ada
untuk
meningkatkan pembelian mereka.
b)
Retrieve : menarik kembali pelanggan yang ‘hilang’, memperlambat arus
pelanggan
yang sekarang menjauh dari merek yang disenangi.
c)
Recruit : merekrut pelanggan ‘baru’, meningkatkan arus pelanggan kearah produk yang
diiklankan, mangganti pelanggan yang pindah ke pesaing, serta secara umum memperluas
pasar secara keseluruhan (Jackson dan Musselman 200:69 dalam ibid).
6.
Sasaran Iklan
Dalam
mempublikasikan suatu produk, selain mempertimbangkan sasaran, perlu
dipertimbangkan pihak-pihak yang berhubungan dengan iklan dan sasarannya.
Menurut Setiyowati
(2008), iklan sebaiknya disusun dengan memperhatikan beberapa hal yaitu:
1. Para pembeli dan pemakai di waktu sekarang
2. Mereka yang memilki potensi sebagai pembeli
3. Mereka yang memilki kekuasaan memutuskan membeli
4. Mereka yang menjadi pembeli atau pemakai diwaktu yang akan datang
5. Mereka yang dapat dipengaruhi orang lain untuk membeli atau memakai
barang yang diiklankan
6. Pasar pedagang
7. Pasar pesaing.
7.
Etika dalam
Periklanan
Untuk membuat konsumen tertarik,
iklan harus dibuat menarik bahkan kadang dramatis. Tapi iklan tidak diterima
oleh target tertentu (langsung). Iklan dikomunikasikan kepada khalayak luas
(melalui media massa komunikasi iklan akan diterima oleh semua orang: semua
usia, golongan, suku, dsb). Sehingga iklan harus memiliki etika, baik moral
maupun bisnis.
Etika?
Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan
tentang hak dan kewajiban moral (KBBI)
Ciri-ciri iklan yang baik
- Etis: berkaitan dengan kepantasan.
- Estetis: berkaitan dengan kelayakan (target market, target audiennya,
kapan harus ditayangkan?).
- Artistik: bernilai seni sehingga mengundang daya tarik khalayak.
Contoh Penerapan Etika
- Iklan
rokok: Tidak menampakkan secara eksplisit orang merokok.
- Iklan
pembalut wanita: Tidak memperlihatkan secara realistis dengan
memperlihatkan daerah kepribadian wanita tersebut
- Iklan
sabun mandi: Tidak dengan memperlihatkan orang mandi secara utuh.
ETIKA SECARA UMUM
- Jujur :
tidak memuat konten yang tidak sesuai dengan kondisi produk yang
diiklankan
- Tidak
memicu konflik SARA
- Tidak
mengandung pornografi
- Tidak
bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
- Tidak
melanggar etika bisnis, ex: saling menjatuhkan produk tertentu dan
sebagainya.
- Tidak
plagiat.
8.
Kriteria Iklan Bagus
dan Jelek
Perdebatan sebuah
penilaian iklan pada masing-masing individu mempunyai perbedaan persepsi dari
sudut pandang masing-masing.
Sebuah iklan yang bagus
harus memiliki UNSUR SUPER "A"
- Simpel
Berarti harus sederhana
dapat dimengerti dengan hanya sekali lihat pengertian simple dapat diartikan
tidak banyak elemen dan komunikatif. Komunikatif berarti mempunyai kekuatan
untuk mengajak konsumen berkomunikasi.
- unexpected (Tak terduga)
Sebuah iklan harus
tidak terduga : Unik dapat menempatkan diri dalam benak pikiran masyarakat.
Iklan yang unexpected akan jauh lebih di ingat oleh konsumennya. Lebih dihargai
dan akhirnya akan menjadi topof mind, paling tidak dalam segmennya.
- Persuasive
Sebuah iklan harus
meyakinkan: Daya bujuk mempunyai pengaruh untuk membujuk orang untuk melakukan
sesuai keinginan dalam iklan tersebut. Iklan yang persuasive dapat mendekatkan
diri dengan Brand kita dan tertarik untuk mencobanya.
- Entertaining
Sebuah iklan harus
menghibur, menghibur tidak harus selalu lucu tetapi mempunyai arti yang lebih
luas yaitu memainkan emosi audience.
- Relevant
Sebuah iklan harus
saling berhubungan dengan brand produknya.
- Acceptable
Sebuah iklan harus bisa
diterima secara pribadi.
Sabtu, 07 Desember 2013
Pengemis dan Mental Miskin
http://bulletinmetropolis.com/home/wp-content/uploads/2009/08/Pengemis.jpg
Menurut KBBI peng.e.mis [n] orang yg meminta-minta. Mengemis atau sering kita artikan sebagai pekerjaan meminta-minta karena dia tidak memiliki pekerjaan yang layak serta tidak mampu mecukupi kebutuhan hidupnya ternyata berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi saat ini. Banyak pengemis yang ternyata di kampungnya adalah orang yang mampu, memiliki rumah yang layak, kendaraan mewah, dan binatang ternak yang banyak serta alat elektronik yang canggih. Lihat ini Pengemis kaya Indonesia dan Pengemis Kaya Dunia
Sekarang Pengemis memiliki berbagai strategi untuk mendapatkan simpati dari orang, mulai dari memasang gips pada badannya agar dia kelihatan cacat, menengadahkan tangan dengan wajah memelas, membawa anak kecil agar dikasihani, menaruh wadah kosong di depan pengemis itu, bahkan saya pernah melihat strategi lain yang mereka lakukan sekarang adalah menaruh uang yang sudah penuh didalam wadah ke dalam tas yang dia bawa sehingga wadahnya kembali kosong dan dapat menarik simpati orang termasuk saya... Ukh kesel banget, ikhlas sih ngasih tapi pas tau kayak gitu saya seperti dibohongi.
Ada lagi pengalaman teman saya (Endah P), tepatnya di stasiun kereta api, kebetulan dia pulang pergi kuliah naik kereta. Dia disamperi oleh ibu-ibu dan anaknya, meminta-minta dengan wajah memelas dan menawarkan beras beberapa liter dengan alasan dia tidak memiliki ongkos untuk pulang ke rumahnya yang jauh entah dimana, karena merasa kasihan teman saya berinisiatif memberinya uang beberapa lembar untuk dia pulang tanpa harus membeli berasnya. Eh setelah mereka pergi, ternyata mereka malah ke warung dan membeli rokok, ibu dan anak itu malah merokok di tempat yang masih ada teman saya itu. Otomatis teman saya langsung kesel disitu, "ya tar dulu kek, jangan di depan gue juga kali, mana untuk beli rokok doang".
Belum lagi sekarang di sekitar kampusku di Margonda banyak banget pengemis anak kecil, seperti memaksa dan terus menunggu sampai kita ngasih uang, otomatis orang memberinya, padahal ya yang saya lihat hasil dia mengemis malah dibelikan rokok, padahal mereka masih kecil-kecil.
Ya ampun.... apa yang terjadi dengan mental pengemis sekarang ini?????
Bayangkan saja penghasilan pengemis dalam seebulan bisa mencapai puluhan juta. Seperti dikutip dalam Merdeka.com Menurut Suku Dinas Jaksel, dalam sehari pengemis di Jakarta bisa mengantongi penghasilan sekitar 750 ribu sampai 1 juta.
Gila ya.. ngalahin gajiku dan gaji manajer sekalipun hanya bermodal muka memelas mendapatkan simpati orang, walaupun kita hanya memberi uang receh sekalipun.
Itulah yang menyebabkan mental Pengemis menjadi mental miskin, dia menjadi malas untuk bekerja yang layak, halal dan bermanfaat. Dia merasa dengan pekerjaan mengemis dia bisa mendapatkan uang banyak tanpa harus capek cuma dengan modal muka memelas. Bahkan pada saat Pemerintah Kota Depok Menawarkan pekerjaan kepada mereka sebagai tukang sapu jalan dengan gaji 1 juta per bulan, mereka menolaknya, karena merasa gaji sebagai pemulung lebih besar daripada tukang sapu. Menolak Pekerjaan yang layak Oh No....!!!!!
Kita sebagai orang yang berpendidikan dan peduli terhadap mental bangsa ini, Marilah kita bangun bangsa ini dengan sebaiknya, mulai dari tidak memberi uang pada pengemis, pengamen, dll. walaupun itu hanya 100 rupiah. Bagaimana jika kita terus-terusan memberi mereka uang untuk kebaikan mereka, tapi malah disalah gunakan oleh mereka.?
Bagaimana jika pada saat yang kita beri adalah anak-anak..????
Bagaimana kalau dia berpikir "enak ya mengemis, cuma meminta-minta terus dapat uang"...?
Maka akan semakin banyak orang kampung yang berminat untuk datang ke kota sebagai pengemis jalanan. Lebih baik kita bersedekah ke Badan atau Yayasan yang memang membutuhkan, biasanya ada di kotak amal mesjid, itu jauh lebih bermanfaat.
Kesadaran kita jauh lebih penting daripada dibuat peraturan tapi tidak dilaksanakan.!!!
Rencananya sih saya ingin membuat film dokumenter mengenai kehidupan pengemis ini, tapi takut terkendala dengan narasumber dan pengemis di jalanan. Tapi semoga saja berjalan lancar dan bisa terealisasi. Amiiiin...
AYO BANGUN BANGSA INI DENGAN MENTAL KERJA KERAS DAN KEJUJURAN
Selasa, 26 November 2013
Analisis Wacana Kritis (CDA)
Analisis Wacana Kritis
a. Pengertian
Michael Stubbs dalam Slembrouck
(Slembrouck, 2006) menyatakan bahwa
wacana memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut, (a) memberi
perhatian terhadap penggunaan bahasa (language use, bukan language
system) yang lebih besar daripada kalimat atau ujaran, (b) memberi
perhatian pada hubungan antara bahasa dengan masyarakat dan (c) memberi
perhatian terhadap perangkat interaktif dialogis dari komunikasi sehari-hari.
Slembrouck juga menekankan bahwa analisis terhadap wacana tidak memandang
secara bias antara bahasa lisan atau tertulis, jadi keduanya dapat dijadikan
objek pemeriksaan analisis wacana.
Crystal dan Cook dalam Nunan
(Nunan, 1993) mendefinisikan wacana sebagai unit bahasa lebih besar daripada
kalimat, sering berupa satuan yang runtut/koheren dan memiliki tujuan dan
konteks tertentu, seperti ceramah agama, argumen, lelucon atau cerita. Nunan
melihat unsur-unsur keruntutan dan koherensi sebagai hal yang penting untuk
menilai sebuah wacana. Sementara Lubis (Lubis,1994) mendefinisikan wacana
sebagai 'kumpulan pernyataan-pernyataan yang ditulis atau diucapkan atau
dikomunikasikan dengan menggunakan tanda-tanda.
Berkembangnya studi wacana
atau analisis wacana dalam ranah linguistik ini merupakan bentuk ketidakpuasan
terhadap mazhab linguistik formal struktural yang cenderung lebih terpaku pada
sistem kebahasaan terhadap unit mikro seperti imbuhan, kata, frasa, klausa dan
kalimat, dan kurang peduli terhadap penggunan bahasa (language use).
Padahal makna sering tidak bisa dipahami secara komprehensif dalam kata, klausa
atau kalimat yang terpilah dari konteksnya. Makna sering harus dilihat dalam
unit yang lebih besar dan luas seperti percakapan, dan harus mempertimbangkan
konteks.
Istilah wacana yang
digunakan dalam Critical Discourse Analysis (CDA) yang dikembangkan para
ahli linguistik sosial seperti Norman Fairclough, Teun van Dijk, Ruth Wodak
memiliki pemahaman yang berbeda dari pemahaman di atas. Dalam konteks ini
wacana dimaknai sebagai pernyataan-pernyataan yang tidak hanya mencerminkan
atau merepresentasikan melainkan juga menkonstruksi dan membentuk entitas dan
relasi sosial.
Dalam studi ideologi dan
relasi kekuasaan kita sering harus mempersoalkan wacana yang berkembang agar
dapat memahami ideologi tersebut secara maksimal. Menurut Van Dijk (Dijk,2000)
ideologi membawa pengaruh terhadap wacana, dan wacana berperan penting dalam
pembentukan ideologi. Pemahaman terhadap ideologi dengan demikian harus
disertai dengan pemahaman terhadap wacana seperti apa yang telah berperan dalam
membangun ideologi tersebut.
Kata kritis (critical)
dalam CDA membawa konsekuensi yang tidak ringan. Pengertian kritis di sini
bukan untuk diartikan secara negatif sebagai menentang atau memperlihatkan
keburukan-keburukan dari subjek yang diperiksa semata. Kata kritis menurut
Wodak hendaknya dimaknai sebagai sikap tidak menggeneralisir persoalan
melainkan memperlihatkan kompleksitasnya; menentang penciutan, penyempitan atau
penyederhanaan, dogmatisme dan dikotomi. Kata kritis juga mengandung makna
refleksi diri melalui proses, dan membuat struktur relasi kekuasaan dan
ideologi yang pada mulanya tampak keruh, kabur dan tak jelas menjadi terang.
Kritis juga bermakna skeptis dan terbuka pada pikiran-pikiran alternatif
(Wodak, 2007).
b. Metodologi
Analisis wacana merupakan
teori atau metode analisis yang banyak menggunakan teknik interpretasi. Pada
tingkat lanjut interpretasi yang dilakukan mengacu pada model dekonstruksi yang
dikembangkan Derrida, yakni model pembacaan yang yang dilakukan guna
menunjukkan apa yang terkubur atau tersembunyi di balik ujaran. Karena bersifat
interpretatif maka reliabilitas dan validitas analisis sering dipertanyakan.
Tetapi reliablilitas dan validitas ini bisa dipertanggungjawabkan melalui
logika dan rasional dari argumen-argumen yang dihasilkan. Dengan kata lain
validitas penelitian tergantung pada kualitas logika analisis serta kualitas
retorik dari argumen yang digunakan peneliti dalam membahas data.
CDA juga bersifat
eksplanatif atau menjelaskan bukan sekadar deskriptif, sehingga peneliti tidak
boleh terjebak dalam analisis yang bersifat superficial atau kulitan.
Antaki et al memerinci beberapa kelemahan metodologis CDA yang sering
ditemukannya dalam laporan hasil penelitian atau tulisan dalam jurnal ilmiah.
Di antara kelemahan-kelemahan metodologis tersebut adalah perancuan antara
analisis wacana dengan peringkasan atau deskripsi wacana, minimnya penjelasan
terhadap kutipan wawancara, dan keberpihakan dalam melakukan analisis.
c. Tujuan
Melalui CDA peneliti dapat mengajak masyarakat untuk
melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ontologis dan epistemologis
tentang hal-hal yang diproblematisasikan.
Agenda utama CDA adalah
mengungkap bagaimana kekuasaan, dominasi dan ketidaksetaraan dipraktikkan,
direproduksi atau dilawan oleh teks tertulis maupun perbincangan dalam konteks
sosial dan politis. Dengan demikian CDA mengambil posisi non-konformis atau
melawan arus dominasi dalam kerangka besar untuk melawan ketidakadilan sosial.
Fairclough dan Wodak (Fairclough & Wodak, 1997:
270) mengidentifikasi karakteristik CDA
sebagai berikut:
-
Memberi perhatian pada masalah-masalah sosial;
-
Percaya bahwa relasi kekuasaan bersifat diskursif,
atau mengada dalam wacana;
-
Percaya bahwa wacana berperan dalam pembentukan
masyarakat dan budaya;
-
Percaya bahwa wacana berperan dalam membangun
ideologi;
-
Percaya bahwa wacana bersifat historis;
-
Memediasikan hubungan antara teks dan masyarakat
siosial;
-
Bersifat interpretatif dan eksplanatif;
-
Percaya bahwa wacana merupakan suatu bentuk aksi
sosial.
Melalui CDA, peneliti berusaha mengungkap motivasi dan
politik yang berada di balik argumen-argumen yang membela atau menentang suatu
metode, pengetahuan, nilai, atau ajaran tertentu. Melalui upaya-upaya itu CDA
berkeinginan untuk membangun informasi dan kesadaran yang lebih baik akan
kualitas atau keterbatasan dari masing-masing metode, pengetahuan, nilai, atau
ajaran tersebut.
Senin, 11 November 2013
Jumat, 08 November 2013
CERITA SMA
"Putih Abu-abu" begitulah orang seering bilang masa SMA. Masa dimana saya mulai menemukan kehidupan baru, sahabat-sahabat baru, kenakalan-kenakalan baru, dan mulai mencari jati diri. Masa ini adalah masa paling menyenangkan, mulai bandel2nya, seragam mulai dikecilin, main kesana-kemari tak tau waktu, masa dimana punya pacar yang lumayan lucu kisahnya... hahahhaha ...
Ini adalah salah satu kenanganku pas masih SMA : cerita SMA
Ini adalah salah satu kenanganku pas masih SMA : cerita SMA
Minggu, 03 November 2013
SINOPSIS DAN TREATMEN
1. Pengertian
Sinopsis
Pengertian sinopsis menurut Dr. Gorys
Keraf adalah ringkasan atau summary atau précis yang paling efektif dalam
menyajikan suatu karangan yang panjang menjadi bentuk pendek.
Sedangkan menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, sinopsis merupakan ikhtisar karangan ilmiah yang biasanya
dimunculkan bersamaan dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis
tersebut. Sinopsis secara garis besar adalah abstraksi, ringkasan atau ikhtisar
karangan.
Sinopsis adalah Alur
cerita yaitu penjelasan bagaimana alur cerita suatu drama film, suatu
film yang dijelaskan dalam bentuk tulisan yang jelas sehingga pemain maupun
penonton memahami jalannya cerita serta produsen memahami isi dari cerita
tersebut.
Dapat juga dijelakan bahwa sinopsis
adalah ringkasan cerita dari alur cerita yang panjang yang
dapat dijelaskan dengan jelas dari alur cerita tersebut. Adanya sinopsis adalah
untuk meningkatkan kemampuan seorang penulis agar lebih baik dan lebih terarah
dari alur ceritanya.
Suatu sinopsis yang
berkualitas adalah suatu rangkaian ringkasan yang singkat namun mampu
menjelaskan cerita secara keseluruhan, sehingga meski hanya singkat, orang akan
lebih mudah memahami alur cerita yang sesungguhnya.
Jangan membuat
sinopsis yang memutar balikkan cerita karena ini tentu saja akan membuat si
pembaca akan merasa bingung dengan jalannya cerita. Suatu cerita dalam film
atau drama bila dikemas secara terarah maka drama tersebut akan mudah dinikmati
oleh penontonnya. Buat start dan proses yang baik hingga ending cerita yang
jelas sehingga penonton tidak dibuat terkatung-katung.
Sinopsis
juga merupakan cerita dasar, penilaian terhadap cerita dasar sesuai dengan tujuan
produksi, dikaitkan dengan prediksi potensi dana produksi dan potensi penonton
sebagai khalayak sasaran. Prediksi dana produksi selain menyangkut jaminan arus
dana, yang tidak kalah pentingnya adalah adanya fisibilitas dalam pengembalian
modal. Mungkin ada produser yang tidak menuntut pengembalian modal, misalnya
pemerintah atau pribadi dan badan yang memiliki program sosiokultural.
Jika
didapat penyandang dana semacam ini tentunya akan menjadi berkah bagi produser.
Namun demikian tetap perlu dilakukan prediksi potensi penonton. Ini bertolak dari
kesesuaian cerita dengan kecenderungan sosiografis dan psikografis khalayak
yang akan dituju (target audience). Penilaian ini dilakukan oleh produser yang
mengenali khalayak sasarannya atau memiliki misi ideal yang ingin diwujudkannya.
Dengan kata lain, suatu cerita dapat dilihat dari sisi kesesuaian dengan motif
penonton yang akan dijadikan khalayak sasaran, atau bertolak dengan kesesuaian
idealisme kebudayaan dari produser. Sisi manapun yang menjadi dasar bertolak,
pilihan cerita tetap menggunakan kriteria enak ditonton.
Sering
orang menganggap sinopsis merupakan ringkasan cerita. Ini memang tidak salah,
tetapi belum memberikan gambaran yang relevan tentang fungsi suatu sinopsis
cerita. Sinopsis suatu cerita bukan sekadar ringkasan cerita. Lantas apa?
Sinopsis adalah usulan untuk pengembangan tema. Jadi ada tema tertentu yang
dianggap menarik, dan si penulis merasa perlu memperkembangkan sebagai cerita.
Untuk itu dia perlu memberi gambaran mengapa tema itu dianggap menarik untuk dikembangkan
sebagai cerita. Sebagaimana diketahui, tema adalah pokok pikiran yang akan
menjadi sari cerita, dan mengandung pesan moral (sesuai dengan misi penulis).
Dalam
menulis sinopsis, penulis perlu memberikan gambaran unsur-unsur dalam ceritanya
kelak yang dianggap mengandung nilai dramatik. Karenanya, dalam menulis
sinopsis, perlu dirumuskan lebih dulu tema yang mendasari cerita. Selanjutnya
tuliskan unsur-unsur yang dianggap dapat melahirkan kejadian-kejadian yang
bakal membangun suasana dramatik.
Unsur-unsur yang perlu digambarkan itu adalah:
·
Karakter
tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita.
Tokoh-tokoh
seperti apakah yang akan bertemu dalam cerita yang akan ditulis? Jika sosok tokoh
ini sudah jelas, dapat dituliskan pula:
-
Bagaimanakah
motivasi tokoh-tokoh itu?
-
Hambatan-hambatan
apakah yang dialami oleh tokoh-tokoh itu dalam memenuhi motivasinya? Apakah sebabnya
motivasi itu terhambat?
·
Kejadian-kejadian
yang dianggap dramatik dalam interaksi para tokoh dalam cerita. Tentu saja
tidak perlu menuliskan kejadian-kejadian secara detail, sebab itu disediakan
untuk treatment. Sedang di dalam sinopsis cukup menuliskan kejadian-kejadian
pokok saja, untuk meyakinkan bahwa tema itu memang menarik andaikata sudah
menjadi cerita kelak.
·
Tempat
dan waktu (masa/zaman) cerita berlangsung juga perlu dituliskan dalam sinopsis,
agar diperoleh gambaran bagaimana hubungan manusia-manusia yang diceritakan itu
dengan tempat dan masa kejadian berlangsung.
Untuk
enak ditonton, setiap cerita dituntut memiliki kekuatan dramatik. Suasana
dramatik tidak mungkin tertangkap melalui sinopsis atau cerpen. Sinopsis hanya
merupakan deskripsi tema yang ingin dijadikan cerita. Begitu pula tangga dramatik
suatu cerpen misalnya, biasanya hanya satu kali, menjelang akhir. Tangga
dramatik yang bertingkat hanya dapat ditangkap melalui novel. Namun ada
perbedaan novel dengan media audio-visual. Perbedaannya pada medium yang
digunakan, film menggunakan medium gambar dan suara. Sedangkan cerpen dan novel
menggunakan medium teks.
Karenanya
setiap produser hanya dapat membahas prediksi bagi bakal produksinya jika sudah
ada kejelasan cerita melalui treatment dan skenario. Melalui treatment dapat
diketahui suasana dan tangga dramatik cerita, sementara dari skenario dapat
diprediksi biaya dan waktu yang diperlukan untuk berproduksi.
Kalau
film yang akan digarap berdasarkan dari gagasan yang dimulai dengan penentuan
tema, maka Sinopsis merupakan pengembangan dari Dasar Cerita. Sinopsis kurang
lebih adalah ringkasan cerita yang berisi:
1.
Garis besar jalan cerita.
Meski cerita diuraikan secara ringkas, namun
harus memperlihatkan alur cerita yang jelas.
2.
Tokoh protagonis
Tokoh protagonis harus dijelaskan siapakah dia?
Apa keinginannya? Apa kejelekannya? Kelebihannya? Bagaimana membuat simpati
padanya?
3.
Tokoh antagonis.
Tokoh Antagonis harus dijelaskan siapa dia?
Kenapa dia harus menghambat tokoh protagonis? Apa alasannya? Apa kemampuannya
untuk membuat penonton antipati?
4. Tokoh
penting yang menunjang plot utama/jalan cerita utama.
Tokoh-tokoh yang penting untuk menunjang plot
utama atau alur utama. Teman Protagonis atau Antagonis. Penggambaran tokoh ini
sudah harus jelas ketika tokoh ini membuat bagian penting dalam bergulirnya
sebuah cerita.
5. Problem
Utama
Harus terlihat problem utama yang melahirkan
alur utama cerita. Problem utama itulah yang membuat sasaran perjuangan
protagonis sampai akhir.
6.
Motif utama.
Penilaian atas motif utama sejalan dengan
problem utama, yakni apakah motif utama mendorong protagonis melahirkan cerita
memang sesuai dengan problem utama yang melahirkannya.
7. Klimaks
dan Penyelesaian
Pencapaian klimaks merupakan hal yang amat
penting untuk dinilai karena klimaks adalah puncak dari tangga dramatik. Jika
diandaikan klimaks harus berada tepi tebing yang curam dan sangat berbahaya.
Alur cerita harus membawa protagonis ke arah tebing yang berbahaya!
8.
Kesimpulan
Apa yang ingin disampaikan dalam cerita harus
bisa disimpulkan dalam sinopsis. Jika dalam sinopsis belum bisa disimpulkan
maka perlu ada tambahan informasi yang jelas.
Syarat-syarat
Penyusunan Sinopsis
Dalam mempersiapkan sinopsis, hendaknya
memperhatikan hal-hal berikut.
Pertama, penulis sinopsis harus sudah
selesai membaca atau menyimak karya yang akan dibuat sinopsisnya. Pastikan
sudah memahami betul inti cerita dan alurmya.
Kedua, dalam menulis sinopsis jangan lupakan
unsur-unsur intrinsik yang terkandung di dalam karya.
Masih ingat dengan kelima unsur instrinsik
cerita?
1.
Tema.
Inti
yang menjadi dasar cerita. Dalam sinopsis, unsur ini bisa dihadirkan di awal
atau di akhir dengan mengutip tulisan dalam karya tersebut.
2.
Alur.
Nama
lainnya adalah plot, merupakan urutan jalannya cerita yang terlihat menyatu dan
terdapat hubungan sebab-akibat di dalamnya. Alur memiliki tingkatan, yaitu tahap
perkenalan masalah, penanjakkan laku, klimaks, anti klimaks, dan penyelesaian
masalah. Dalam sebuah sinopsis, alur menjadi bagian paling penting yang tidak
boleh dihilangkan karena mampu memperjelas jalannya cerita secara keseluruhan.
3.
Penokohan.
Pencitraan
tokoh atau karakter dalam cerita. Sinopsis memunculkan sang tokoh sentral dan
beberapa karakter pendukung lebih fokus agar pembaca tertarik untuk melanjutkan
menyelami karya tersebut.
4.
Latar.
Dalam
bahasa film dikenal dengan setting,
merupakan penanda waktu, suasana, tempat dan korelasi semuanya dengan cerita.
Sinopsis sedikit banyak turut menyelipkan unsur ini.
5.
Point of view atau sudut pandang tokoh adalah cara penulis
menyebutkan tokoh. Terdapat beberapa sudut pandang yang biasa dipakai, yaitu orang
pertama tunggal 'aku', orang ketiga tunggal 'dia' sebagai Yang Maha Tahu dan
campuran 'ku' dan 'dia'. Dalam sinopsis, yang dipakai biasanya adalah sudut
pandang 'dia'.
Ketiga, sinopsis harus dibuat sejujur-jujurnya, sesuai
isi ceritanya atau berdasarkan fakta karyanya. Kalau pun ingin menambah
pendapat sendiri, usahakan tidak menggunakan bahasa yang menyinggung,
mengkritik dengan pedas, dan keluar dari cerita.
Keempat, perlu diingat, sinopsis tentu sangat berbeda
dengan resensi. Sinopsis dibuat sesuai karya aslinya dengan cara membuat précis
yaitu kesimpulan atau ringkasan. Sedangkan resensi dibuat mirip sinopsis dengan
menambahkan pendapat penulis resensi mengenai kekurangan dan kelebihan isi buku
atau film. Prinsip resensi adalah untuk mengulas lebih dalam suatu karya.
Kelima, sinopsis langsung dibuat tanpa perlu diawali
dengan: "Menurut penulis..." atau "Berdasarkan pengamatan
penulis...".
Keenam, berlatihlah menulis sinopsis dengan mulai
membaca buku lalu membuat ringkasannya. Pelajari pula contoh-contoh sinopsis
yang sering ada di cover belakang buku. Atau menonton
film kemudian menceritakannya kembali dan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan
singkat.
Metode Membaca
Dalam proses pembuatan sinopsis diperlukan tahap membaca dengan
saksama agar tulisan yang kita buat sesuai dengan fakta cerita pendek atau
novel. Membaca memiliki tujuan. Tujuan utama di sini adalah untuk mendapatkan
intisari cerita berbentuk sinopsis.
Tujuan membaca secara garis besar adalah untuk
memperoleh informasi dari suatu bacaan, memperoleh kesenangan atau hiburan,
mengetahui apa yang sedang terjadi atau sedang tren melalui membaca koran dan
buku fiksi atau non fiksi, membandingkan satu karya dengan karya lain,
memperoleh kenikmatan emosi, mendapatkan pemahaman, dan mengisi waktu luang.
Teknik membaca cepat memiliki beberapa
pendekatan, yaitu sebagai berikut.
a. Survey, melihat sekilas isi buku seperti cover buku, judul buku, lalu membuka
cepat halaman demi halaman untuk melihat sub bab dan bagian-bagian penting isi
buku.
b. Question, sambil melakukan survey, Anda bisa sekaligus
melakukan analisa terhadap isi buku seperti melontarkan
pertanyaan,"mengapa begini" dan "apa saja yang mendasari hal
tersebut".
c. Read, mulailah membaca secara keseluruhan dengan
jeda di setiap bab yang selesai dibaca. Jeda ini dilakukan untuk memperoleh
intisari bacaan.
d. Refleksi, tahap ini dilakukan dengan menceritakan
kembali ide-ide utama dalam satu bab tersebut, tentu saja dengan gaya bahaya
sendiri. Tahap refleksi bertujuan untuk memahami isi bacaan bukan sekadar tahu
dan ingat sesaat.
e. Review, ini adalah tahap dimana Anda me-recall apa yang sudah Anda baca dengan
melakukan survei kembali, yaitu melihat sekilas bagian-bagian terpenting dalam
satu bab dan bab-bab berikutnya. Review dilakukan untuk memahami isi buku
secara keseluruhan, bukan hanya per bab.
Langkah-langkah Penyusunan Sinopsis
Sinopsis yang hanya terdiri dari seperlima
bagian dari keseluruhan isi buku atau film dapat disusun berdasarkan tahapan
berikut.
·
Bacalah buku sambil menggarisbawahi ide pokok.
Setelah didapat ide pokoknya, lalu pindahkan ke dalam catatan dan mulailah
kembangkan sendiri ide pokok dengan gaya bahasa sendiri.
·
Bacalah buku per bab secara berulang-ulang.
·
Buatlah sinopsis sederhana dengan menggunakan
kalimat tunggal atau sederhana. Bila memungkinkan, gunakan kalimat majemuk yang
lebih kompleks agar bisa didapat intisari dalam satu pemahaman.
·
Bila ada kalimat yang terlalu kompleks,
sederhanakanlah agar sinopsis bisa menjadikannya lebih mudah untuk dipahami.
Bila kalimat tersebut dirasa tidak bisa disederhanakan lagi, maka ambillah agar
sesuai dengan keaslian isi buku.
·
Tokoh sentral dalam karya tersebut disebut
sebanyak beberapa kali dengan mempertimbangkan fungsinya bersama dengan tokoh
pendukung hingga menjadi satu kesatuan ide cerita yang menarik. Ingat sinopsis
adalah karya tersebut dalam bentuk ringkasan.
·
Sinopsis film dapat dibuat dengan mengandalkan
audio visual kita. Perhatikan alur cerita, tokoh-tokohnya dan detil-detil film.
Bisa jadi hal-hal simpel dalam adegan suatu film menjadi hal terpenting atau
kunci cerita. Foreshadowing
adalah istilah yang digunakan untuk menyebut detail dalam film dari
hal kecil tersebut.
2. Tujuan Sinopsis
Sinopsis
memiliki arti penting dalam pembuatan skenario, yaitu sebagai pijakan. Kita
akan kesulitan membuat skenario apabila kita tidak tahu sinopsis ceritanya.
Akan sama sulitnya kita akan membuat sinopsis apabila tidak mempunyai ide
cerita.
Apabila kita membuat film bukan film lepas (FTV/layar
lebar), melainkan sinetron, maka selain menyiapkan sinopsis global, kita juga
harus menyiapkan sinopsis per episode yang tentu saja lebih detail dibanding
dengan sinopsis global.
Tujuan
utama sinopsis adalah memudahkan pemesan (produsen) menangkap konsep,
mempertimbangkan kesesuaian gagasan dengan tujuan yang ingin dicapai dan
menentukan persetujuannya. Setelah sinopsis ditulis maka sudah harus nampak
adanya: alur, isi cerita, perwatakan pemain, tempat, waktu, serta keterangan
lain yang memperjelas sinopsis.
Tujuan lain dibuatnya sinopsis adalah untuk memberikan
informasi terpenting dari sebuah karya kepada pembaca atau penikmatnya dalam
format yang lebih singkat sehingga mereka dapat dengan mudah mengetahui
intisari cerita. Sinopsis hanya dibuat sebanyak satu sampai tiga halaman.
3.
Pengertian Treatmen
Treatment adalah pengembangan jalan cerita dari sebuah
sinopsis yang di dalamnya berisi plot secara detail namun cukup padat.
Treatment bisa diartikan sebagai kerangka skenario yang tugasnya adalah membuat
sketsa dari penataan konstruksi dramatik. Dalam bentuk sketsa ini kita akan
mudah memindah-mindahkan letak urutan peristiwa agar benar-benar tepat.
Treatment
merupakan deskripsi setiap adegan untuk menampilkan alur cerita atau uraian
ringkas secara deskriptif, bukan tematis yang dikembangkan dari sinopsis,
melainkan dengan bahasa visual tentang suatu episode cerita, atau ringkasan
dari rangkaian suatu peristiwa. Artinya dalam membuat treatment bahasa yang
digunakan adalah bahasa visual. Sehingga apa yang dibaca dapat memberikan
gambaran mengenai apa yang akan dilihat. Dengan membaca treatment bentuk
program yang akan dibuat sudah dapat dibayangkan.
Treatmen
perlu dibuat, walaupun cerita berasal dari novel yang sudah terbentuk plot dan
alur ceritanya. Dengan adanya treatment, analisis dapat dilakukan lebih tajam
dan efisien. Pertimbangannya dilakukan melalui urutan adegan yang terdapat
dalam naskah treatment, dapat berfungsi untuk:
a.
Menilai
hubungan logis rangkaian adegan dalam alur cerita
b.
Menilai
potensi tangga dramatik dari urutan adegan dalam alur cerita.
c.
Bahan
utama menyusun skenario (Adegan adalah satuan peristiwa yang memuat motif dan
tindakan manusia baik sendiri maupun dalam berinteraksi dengan manusia lain).
Dengan
kata lain, treatment akan mendeskripsikan kejadian dalam susunan logis sesuai
dengan urutan cerita. Melalui treatment dapat diikuti kejadian kejadian yang
berlangsung, sehingga dapat diketahui plot cerita. Dari sinopsis yang sudah memberikan
gambaran mengenai unsur-unsur yang terkandung dalam cerita kelak, penulis
mengembangkan kejadian-kejadian untuk mewujudkan cerita yang sudah memiliki
struktur.
Dalam
suatu treatment tidak perlu dituliskan percakapan tokoh. Kecuali jika penulis
menganggap ada percakapan kunci yang sedemikian pentingnya, kalau tidak
dicantumkan orang tidak bisa menangkap plot cerita misalnya, barulah perlu menuliskan
dialog atau monolog tokoh-tokoh. Tetapi kalau masih bisa dihindari, lebih baik
tidak menuliskan dialog, agar bisa berkonsentrasi memikirkan kejadian-kejadian melalui
tindakan tokoh-tokoh cerita.
Dengan menguraikan
secara berurutan tindakan-tindakan penting, untuk memperoleh gambaran mengenai
kejadian yang dramatik. Jika penulis dapat mengimajinasikan tindakan-tindakan
yang dapat ditangkap secara visual, maka pengwujudan dalam media televisi dan
film kelak akan lebih gampang.
Sehingga
perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a.
Urutan
dalam video sudah makin jelas
b.
Sudah
kelihatan formatnya apakah dialog (bagaimana pokok dialognya) atau narasi (bagaimana
pokok narasinya),
c.
Sudah
dimulai adanya petunjuk-petunjuk teknis yang diperlukan.
Treatmen
juga merupakan pembabakan. Sebuah film umumnya terdapat tiga babak. Sinopsis
itu harus dipecah ke dalam tiga babak ini.
-
Babak
pertama sebagai pengenalan setting, tokoh, dan awal masalahnya.
-
Babak
kedua sebagai bagian berkecamuknya masalah.
-
Babak
ketiga sebagai penyelesaiannya.
Yang
tiga babak ini disebut dengan struktur tiga babak (tree acts structure). Ada juga
yang disebut struktur sembilan babak (nine acts structure), sebagai pengembangan
dari yang tiga babak. Yang sembilan babak ini terdiri dari:
-
Babak 1:
kejadian buruk menimpa orang lain.
-
Babak 2:
pengenalan tokoh utama (protagonis).
-
Babak 3:
kejadian buruk menimpa protagonis, atau terlibat/dilibatkan kepada masalah
orang lain pada babak 1.
-
Babak 4:
protagonis dan antagonis
-
Babab 5:
protagonis berusaha keluar dari masalah
-
Babak 6:
protagonis salah mengambil jalan
-
Babak 7:
protagonis mendapat pertolongan
-
Babak 8:
protagonis berusaha keluar dari masalah lagi
-
Babak 9:
protagonis dan antagonis berperang, menyelesaikan masalahnya.
Naskah yang disebut treatment ini lebih berkembang daripada step-outline.
Sudah lengkap dengan action pokok pelaku. Boleh dikatakan treatmen adalah
kerangka lengkap skenario. Hanya tinggal menambah pemanis disana-sini dan
dialog, maka sudah menjadi skenario.
Pada penulisan treatment harus pakai nomor. Yakni nomor kelompok adegan
atau adegan-adegan disuatu tempat. Maka itu tiap nomor disertakan keterangan
tempat maupun waktu. Uraian treatment berisi:
1. Menggambarkan “kerangka
skenario” lengkap tapi padat.
2. Penuturan sudah mengacu
pada urutan Tiga babak dan penataan dramatik.
3. Uraiannya harus ringkas,
komunikatif dan efektif, supaya tidak terlalu tebal.
4. Nama orang dan tempat
sudah fix, sebagaimana yang akan tampil dalam skenario.
Dengan pembuatan treatment, kita sudah bisa melakukan pemendekan atau
pengembangan uraian sesuai dengan tuntutan cerita dan tuntutan penataan
dramatik. Karena dengan dialognya yang panjang lebar dan sudah susah payah kita
ciptakan, sulit melakukan perubahan dan juga kita merasa enggan.
Pada saat menulis treatment kita dengan leluasa merencanakan aksi pelaku
yang membuat adegan menjadi betul-betul hidup, realistik dan menunjang
kebutuhan cerita/dramatik.
Treatment pada dasarnya merupakan urutan isi/materi program yang akan disajikan episode demi episode secara
ringkas. Bahasa yang dipakai dalam
treatment sudah merupakan bahasa visual sehingga orang yang
membacanya akan dapat merasakan alur
sajian seperti kita lihat pada monitor/layar.
4.
Tujuan Treatmen
Dari sebuah treatmen orang
bisa membayangkan apa saja yang akan terlihat di layar. Dengan kata lain
treatmen adalah sebuah uraian mengenai segala urutan kejadian yang akan tampak
di layar televisi/video. Uraian tersebut bersifat naratif tanpa menggunakan
istilah teknis, seperti ketika seseorang menceritakan kembali pertunjukan yang
baru saja dinikmati. Bila sudah berhasil menyusun treatmen maka dapat dikatakan
bahwa pekerjaaan dalam menyususun skenario sudah setengah jalan.
Langganan:
Postingan (Atom)
LOGIKA DAN ALGORITMA KOMPUTER (SIMULASI DAN KOMUNIKASI DIGITAL)
PERTEMUAN KEDUA SIMULASI DAN KOMUNIKASI DIGITAL SMKN 1 CARIU Tahun Ajaran 2020/2021 "LOGIKA DAN ALGORITMA KOMPUTER...
-
1. Pengertian Sinopsis Pengertian sinopsis menurut Dr. Gorys Keraf adalah ringkasan atau summary atau précis yang paling efektif ...
-
Penulisan Naskah dalam Program Audio Visual Penulisan naskah dalam program audio visual misalnya film, televisi, termasuk video, selaan...
-
PERTEMUAN KEDUA SIMULASI DAN KOMUNIKASI DIGITAL SMKN 1 CARIU Tahun Ajaran 2020/2021 "LOGIKA DAN ALGORITMA KOMPUTER...





