Selasa, 09 April 2013

Penipuan Lewat HP


MODUS PENIPUAN LEWAT HP

Handphone atau biasa disebut HP sekarang sudah menjadi barang kebutuhan untuk berkomunikasi yang sangat penting. HP merupakan alat komunikasi jarak jauh yang memiliki banyak kegunaan untuk berkomunikasi dan menjadi media hiburan bagi sebagian orang.
Disamping memiliki banyak kegunaan HP juga ternyata dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk kejahatan yaitu penipuan. Modus penipuan memalui telepon genggam atau ponsel (HP) saat ini marak terjadi. Korbannya mulai dari kalangan orang yang masih muda sampai dengan orang dengan usia lanjut. Korban juga dari kalangan orang dengan taraf ekonomi rendah sampai orang berkantong tebal. Banyak modus penipuan melalui ponsel dengan menggunakan pesan singkat atau SMS.
Beberapa modus penipuan lewat SMS antara lain dengan meminta pulsa. Pelaku mengirim SMS kepada korban dengan meminta pulsa jika dirinya dalam keadaan darurat misal kena tilang polisi, kecelakaan, atau bahaya yang lain. Modus yang lain dengan mengirim SMS supaya korban mengirimkan uang ke rekening pelaku, nomor rekening sudah dicantumkan pada SMS lengkap atas nama nomor rekening entah dapat dari mana, karena jika kita membuka rekening nama pemilik rekening harus sesuai dengan KTP.
Modus yang lain adalah pelaku mengirim SMS kepada korban bahwa nomor ponsel (HP) korban mendapat hadiah dari operator yang dipakai korban. Masih modus hadiah, pelaku mengirim SMS ke korban bahwa korban mendapatkan hadiah dari perusahaan terkenal. Dari modus hadiah tadi korban disuruh menghubungi ke nomor tertentu. Dari situ korban dipandu untuk mentransfer sejumlah uang.
Dari beberapa modus di atas, ternyata ada modus baru dalam penipuan dengan menggunakan ponsel. Modus itu adalah pelaku pura-pura kenal dengan korban dan memberi tahu jika nomor HP nya ganti dan menyuruh korban untuk menyimpan nomor baru dan menghapus nomor lama. Kali ini pelaku tidak mengirim SMS, melainkan langsung menelpon korban.
Sebut saja Mrs. AS yang menjadi korban. Pada hari Minggu korban mendapat telpon dari pelaku seorang lelaki yang sok kenal dengan korban. Pelaku mengatakan kalau nomor HP nya ganti, nomor baru yang digunakan untuk menelpon dan korban disuruh untuk menyimpannya, sementara nomor yang lama disuruh menghapusnya.
Berikut ilustrasi percakapan pelaku dan korban pada hari Minggu. “Hallo, Mbak, nomor HP ku ganti” kata pelaku. Tanpa pikir panjang korban mengatakan menyebut nama seseorang. “Ini Paijo ya” jawab korban. Paijo bukan nama yang sebenarnya. Lalu dijawab pelaku “Iya Mbak, aku Paijo, nomor ini disimpan ya, dan nomorku yang lama tolong dihapus saja”. Akhirnya korban menyimpan nomor baru pelaku dengan nama di phone book “Paijo”. Untungnya nomor lama masih di HP dan korban lupa tidak menghapusnya.
Pada hari berikutnya, yaitu hari Senin sekitar jam istirahat makan siang pelaku menelpon korban. Nomor HP pelaku yang sudah disimpan korban membuat korban langsung tidak curiga jika telpon tersebut dari penipu. Korban mengenal nomor HP tadi dari Paijo salah satu orang yang dikenal korban. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun korban menjawab pertanyaan dari pelaku.
Pelaku pura-pura dalam keadaan darurat mendapat musibah. “Mbak, aku Paijo, aku dapat musibah, aku menabrak orang dan sekarang orangnya masuk di rumah sakit di UGD” kata pelaku dengan nada seolah-olah kejadian yang sebenarnya. “Mbak, aku dikirimi pulsa 50 ribu untuk nelpon orang tua yang kutabrak” tambah pelaku. Bahkan situasi dibuat mirip seperti orang yang berada di jalan lengkap dengan suara percakapan seperti orang yang kecelakaan. Pelaku meminta korban memberi pulsa. “Mbak, tolong diberi pulsa 100 ribu untuk dua orang polisi ya, jadi 200 ribu”. Terus korban menanyakan untuk apa uang itu. “Untuk apa pulsa 100 ribu untuk dua orang polisi” tanya korban dengan nada yang panik. “Begini mbak, ada dua orang polisi di sini, sebenarnya polisi minta uang damai 500 ribu, akan tetapi mereka berdua malu jika menerima uang tersebut di sini karena banyak orang” jawab pelaku dengan nada memelas dan meyakinkan kepada korban. “Supaya mereka tidak malu, maka mereka tidak mau menerima dalam bentuk uang melainkan pulsa saja 100 ribu untuk dua orang, tolong pulsa dikirim ke nomor ini” tambah pelaku dengan nada tambah meyakinkan.
Akan tetapi korban tidak mau menuruti permintaan pelaku. “Banyak banget 200 ribu” jawab korban menolaknya. Terus pelaku menawar kepada korban mengurangi nominal pulsa. “Mbak, 50 ribu saja untuk telpon polisi, nanti yang lain biar aku yang urusi” jawab pelaku agak kecewa karena permintaannya tidak dituruti. Korban masih menawar lagi. “Untuk telpon saja kok mahal banget, 20 ribu saja ya, ini teman sekantorku ada yang jual pulsa tapi kalau 50 ribu saldo pulsanya tidak ada” jawab korban meminta keringanan. Akhirnya korban meminta temannya untuk mentransfer pulsa kepada pelaku 20 ribu.
Setelah itu Mrs. AS yang sebagai korban cerita kepada teman-teman sekantor. Mrs. AS lalu menelpon nomor HP Paijo yang kebetulan lupa tidak dihapusnya. Waktu Paijo ditelpon, Paijo yang asli mengatakan kalau dia di suatu tempat di Kota Solo dalam keadaan baik dan tidak mengalami kecelakaan, apa lagi menabrak orang sampai masuk UGD di rumah sakit. Teman-teman termasuk saya bilang kalau Mrs. AS kena tipu. Mrs. AS baru sadar kalau dia kena tipu setelah mendengar keterangan langsung dari Paijo yang asli. Dia menceritakan kalau dia pada hari sebelumnya mendapat telepon dari seseorang yang ganti nomor HP.
Dari kasus penipuan di atas, dapat diketahui cara mencegah terjadinya penipuan diantaranya sebagai berikut:
1.        Jangan sebut nama seseorang. 
Jika ada orang yang tak dikenal menelpon Anda dan memberi tahu kalau orang tersebut ganti nomor, maka jangan langsung menyebut nama orang yang Anda kenal. Pelaku pasti mengatakan “ya” dan nama orang yang Anda sebutkan tadi pasti disimpan pelaku. Hari berikutnya menelpon pelaku langsung menyebut nama orang yang Anda sebut tadi. Dalam kasus di atas “Paijo”. Ajukan beberapa pertanyaan seperti nama, alamat, dan keterangan lain. Pasti pelaku akan kebingungan menjawab. Jika pelaku menyebut nama seseorang yang kebetulan Anda kenal, ajukan pertanyaan lagi. Tanya alamatnya di mana dan apa pekerjaannya. Pasti ada jawaban dari pelaku yang salah. Dari situ Anda dapa menyimpulkan bahwa ini adalah penipuan.
2.        Nomor HP lokal
Pelaku mencari target nomor HP korban yang satu daerah asal nomor (Home area). Perlu Anda ketahui, setiap operator selular mempunyai kode area setelah prefix number (4 digit nomor kode operator). Misal untuk operator Telkomsel Simpati dengan prefix 0813 maka untuk kode area Jawa Tengah dan DIY 27, 28, 29, 91, 92, 93. Jadi 6 digit angka menjadi 081327xxxxxx, 081328xxxxxx, 081391xxxxxx, dan seterusnya. Bigitu juga dengan operator yang lain digit ke 5 dan 6 atau sampai 7 merupakan kode area. Untuk Telkomsel area Sumatra Bagian Selatan setelah prefix 0813 atau 0852 adalah 67 sampai 78. Untuk operator Indosat Mentari area Jateng dan DIY setelah prefix 0815 atau 0816 adalah 65 sampai 75. Untuk operator XL setelah prefix 0819 area Sumatra Selatan dan Bangka Belitung adalah 18, 49, 95, 96, 97, 98. Itu adalah beberapa contoh kode area operator selular. Antara operator satu dengan yang lainnya mempunyai kode area yang berbeda. Pelaku juga merupakan orang lokal, ini dilakukan supaya korban lebih cepat mengenal nama orang yang dikenal korban, dalam kasus di atas “Paijo” dan tidak curiga.
3.        Pelaku meyakinkan korban
Apa yang dikatakan pelaku pada hari pertama dan kedua menelpon sangat meyakinkan korban dan membuat korban tidak curiga.
4.        Pelaku mencari waktu yang tepat untuk menelpon korban. 
Pada saat hari kedua pelaku menelpon korban waktu jam makan siang. Ini sangat tepat karena pada jam seperti itu orang yang bekerja sedang istirahat, jadi ada waktu luang untuk mendapatkan pulsa. Jika waktu yang untuk menelpon pada jam sibuk, maka kecil kemungkinan dilayani oleh korban karena sibuk dengan pekerjaannya. Pada hari ketiga yaitu hari Selasa, pelaku masih menelpon korban berkali-kali pada saat jam istirahat juga akan tetapi tidak dihiraukan oleh korban.
5.        Pelaku menggunakan kartu yang satu operator dengan korban
Ini dilakukan oleh pelaku supaya lebih menghemat pulsa. Jika berlainan operator maka pulsa pelaku akan cepat habis. Pelaku menggunakan kartu yang sudah dibuat paket menelpon, misal jika menggunakan operator Telkomsel ada paket Talkmania pada Simpati, untuk Indosat Mentari ada paket obrol, untuk XL dengan paket 1000 telpon dapat 200 menit, dan lain-lain. Beberapa operator selular di Indonesia menawarkan paket menelpon antara 1000 sampai 3000 untuk dapat menelpon ke sesama operator dari satu jam hingga dua jam.
6.        Pelaku menggunakan kartu prabayar
Meskipun kartu prabayar harus diregistrasi, namun kenyataanya dapat diregistrasi dengan nama, nomor identitas, dan alamat yang palsu. Bahkan banyak kartu perdana yang sudah diaktifkan oleh counter, pembeli tinggal memakai kartu tanpa harus meregistrasi terlebih dahulu. Sehingga ini dapat dimanfaatkan oleh penipu, jika nomor sudah diketahui maka penipu akan ganti nomor dengan mudah dan harga yang sangat murah. Kartu pasca bayar tidak mungkin bisa digunakan untuk menipu karena mudah langsung dapat dideteksi karena pada saat mendaftar kartu harus menggunakan KTP atau identitas lain yang masih berlaku.
7.        Nomor HP pelaku tidak bisa dihubungi
Pelaku biasanya menggunakan aplikasi software khusus untuk menelpon atau SMS. Aplikasi ini hanya bisa digunakan untuk menelpon atau SMS yang dilakukan oleh pelaku. Beberapa tipe HP mempunyai fitur dapat menyaring atau memblokir SMS atau telpon yang masuk. Jika korban ingin menghubungi misal SMS atau menelpon balik maka tidak bisa. Ini yang dimanfaatkan oleh pelaku dengan mengincar beberapa korban yang sulit dilacak, kecuali jika korban lapor ke polisi dan nomor HP pelaku aktif, maka polisi dapat melacak pelaku dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS).

Semoga artikel ini bermanfaat, agar Anda bisa menghindari penipuan melalui HP dan lebih berhati-hati lagi.

Sumber : 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

saatnya berkomentar